Thursday, March 25, 2010

Masyarakat Phlegmatic (Phlegmatisasi)





Tipologi Kepribadian Hippocrates

Konon, dalam studi kepribadian klasik tercatat, Hippocrates(1) menggolongkan kepribadian manusia ke dalam empat kepribadian saja, yaitu Melankolic (sempurna), Phlegmatic (tenang/damai), Sanguinic (populer)dan Korelic (kuat). Masing – masing kepribadian memiliki ciri khasnya masing – masing. 

Melankolic
, Karena dia seorang yang cenderung ”sempurna” maka biasanya dia dikenal sebagai seorang idealis, kurang suka berkompromi, kadang cenderung introvert, Suka segala sesuatu berjalan rapih, teratur, karena itu kadang – kadang terlihat agak kaku. Mempunyai impian yang besar/tinggi. Dalam tingkat kecerdasan yang sama dengan tipe kepribadian lain, sosok melankolis cenderung lebih terlihat unggul karena kecenderungannya akan sesuatu hal yang ideal.

Phlegmatic, Orang dengan kecenderungan ini, perilaku aktualnya adalah tenang, mengalir, menghindari/mengakhiri konflik, menghindari suasana yang membuat tidak nyaman, mendamaikan sesuatu yang berseteru, dan konon damai adalah tujuan tertinggi tipe kepribadian ini.

Sanguinic, Orang dengan kecenderungan sanguinis ini mempunyai perilaku yang menarik di mata orang lain. Tipe kepribadian ini memperlihatkan pribadi yang disukai banyak orang: ceria, riang, suka berinteraksi dengan orang lain, menghidupkan suasana, bersemangat, suka dipuji, dan ekspresif.

Korelic, adalah tipe kepribadian yang meledak – ledak, kuat, mempunyai kemauan yang keras, sulit dikendalikan, kadang terlihat otoriter, kurang suka basa – basi.



Empat tipologi kepribadian dan kombinasi - kombinasinya ini diyakini Hippocrates mampu menafsirkan pola – pola kepribadian seseorang. Misal, jika seseorang mempunyai kecenderungan kuat pada Phlegmatis, maka tiga kecenderungan yang lain tidak sekuat kecenderungan pada phlegmatis, tetapi bukan berarti tidak ada tiga kecenderungan yang lain itu.



Masyarakat Phlegmatis


Kepribadian adalah suatu bentuk kesatuan jiwa yang di bawahnya terdapat berbagai subsistem yang mengkonstuknya (misal das Es, das Ich, dan das Ueber Ich-nya Freud), Maka pola – pola/kecenderungan kepribadian yang nampak adalah produk dari suatu komposisi yang menggambarkan dinamika susbsistem kepribadian tersebut. Ini jika kepribadian ditujukan untuk menafsirkan gejala kejiwaan seseorang.

Apabila konsep ini dielaborasi dengan mengganti objek ”individu” dengan ”masyarakat” (selanjutnya tanpa tanda petik <”>), maka akan diperoleh suatu tafsiran kepribadian, yaitu kepribadian masyarakat. Kepribadian masyarakat dapat diartikan sebagai deskripsi kejiwaan masyarakat yang pola – polanya terkonstruk oleh dinamika subsistem kepribadian dengan komposisi tertentu yang menunjukkan ciri khas masyarakat tersebut.

Masyarakat Phlegmatis dapat diartikan sebagai gambaran dari suatu masyarakat dengan karakter tenang, mengalir, memilih menghindari/mengakhiri konflik, menghindari suasana yang membuat tidak nyaman, mendamaikan sesuatu yang berseteru, dan cinta damai/aman. Namun, karakter ini bukan penulis pakai untuk menggambarkan kepribadian masyarakat yang terkonstruk sedemikian rupa hingga berkarakter phlegmatis. Tetapi penulis mencoba mengambarkan proses phlegmatisasi masyarakat sebagai suatu proses yang membentuk, bahkan (disadari atau tidak) memaksa masyarakat sehingga tampak phlegmatis. Berikut adalah beberapa hal yang penulis curigai mempuyai peran besar dalam membentuk phlegmatisasi masyarakat



Konsep masyarakat positif

Konsep masyarakat positif ini merujuk pada pemikiran Auguste Comte(2). Ciri masyarakat positif adalah mereka telah mengganti gaya berpikir spekulatif dengan gaya berpikir rasional empiris. Logika ini didesakkan pada seluruh sendi kehidupan dengan semana – mena. Konsep ini akan menghasilkan pengetahuan yang instrumentalis. Masyarakat/individu dibekali dengan metode sains yang memungkinkan memiliki penguasaan alam dan lingkungan untuk merencanakan masa depan yang lebih baik. Dengan keadaan semacam ini, agama harus bersedia menyerahkan diri hegemoninya -seperti pasukan yang kalah perang- pada ilmu pengetahuan empiris. Tempat – tempat peribadatan agama yang dahulu menjadi jantung peradaban manusia, kini, pada masa masyarakat positif telah digantikan Bank, Universitas, dan Industrialisasi. Dengan konstruk semacam itu, maka segala hal yang utama adalah yang dapat diukur, dikendalikan, bahkan dimanipulasi. Hal – hal yang bersifat materiil dan pragmatis (manfaatnya dengan cepat dapat dirasakan) menjadi hal prioritas. Sedangkan hal – hal yang sifatnya spekulatif dan tidak dapat diukur (mistis, agama, bahkan, Tuhan) akhirnya terpinggirkan.

Ciri masyarakat positif berikutnya adalah kehilangan makna. Revolusi di bidang sains (iptek), perubahan sistem kenegaraan, transportasi, teknologi informasi, komunikasi, rekayasa biologis, bidang produksi, dll semakin memudahkan hidup masnusia. Seakan – akan segala kebutuhan manusia dapat dipenuhi dengan landasan teknologi dan ilmu pengetahuan. Hal ini terjadi berlarut – larut pada masyarakat positif, pada zaman modern ini. Segala cita – cita diwujudkan secara instrumentalis, hingga pada saatnya muncullah imagi tentang robot. Penulis mengartikan robot adalah lambang supremasi positivistik, bahwa setiap “inci” dari manusia dapat diukur dan kemudian dibuat replikanya dalam bentuk robot. Tetapi bersamaan dengan itu, robot adalah lambang kegagalan manusia dalam memanusiakan dirinya, lambang kegagalan manusia dalam usahanya mencari makna. Karena itulah sains -bagi masyarakat positif- sebagai sandaran utama telah gagal dalam memecahkan berbagai permasalahan. Gagal dalam menjawab pertanyaan – pertanyaan manusia dalam krisis makna, krisis spiritual yang mendera. Dengan sains manusia dapat menciptakan apa saja sejauh itu dapat diukur, dengan sains pula manusia dapat kaya raya, berlimpah materi, tetapi bersamaan dengan itu, manusia dan masyarakat positif mengalami krisis tentang kebermaknaan, dahaga spitirual yang berlarut – larut.

Carl Gustav Jung(3), bercerita bahwa kebanyakan pasiennya adalah berasal dari masyarakat dengan ekonomi kelas menengah ke atas dengan usia 30 tahun – 45 tahun. Tentu saja secara pendidikan adalah terpelajar, kehidupan mereka telah mapan, bahkan konon sebagian adalah golongan masyarakat high-class. Tetapi dari pasien – pasien tersebut Jung menemukan persamaan bahwa keluhan – keluhan yang mereka bawa tidak lain tidak bukan selalu berhubungan dengan basic value, filsafat hidup, tentang kebermaknaan; atau dengan kata kata lain mereka mengalami krisis spiritual. Masyarakat positif bergelimang kemakmuran materi dan menderita dahaga spiritual yang akut. Hal ini, antara lain disebabkan karena sumber keyakinan, makna, dan spirit hidup hanya dimiliki oleh agama dan kepercayaan; bukan sains.

Sementara sains telah ”disucikan” dari pengaruh nilai – nilai agama dan dijadikan sandaran peradaban, agama dan kepercayaan itu sendiri telah dipinggirkan, karena tidak terukur dan tidak nyata/secara langsung dapat dirasakan kebermanfatannya (tidak masuk dalam prinsip – prinsip pragmatis). Dengan demikian masyarakat positif, dengan karakternya ini, membutuhkan basic value, filsafat hidup, kebermaknaan, spiritualisme yang sifatnya pragmatis: motivasi. Akhirnya Phlegmatisasi masyarakat menemukan bentuknya dengan menghindari perasaan kurang nyaman karena krisis makna dengan solusi berupa motivasi – motivasi sebagai penambalnya. Tidak peduli dari mana motivasi tersebut, asal (paling tidak) individu – individu dalam masyarakat positif tersebut merasa damai.



Kebijakan kekuasaan

Erich Fromm4 pernah berbaik hati dengan berpesan bahwa untuk menjadi pribadi yang sehat dapat dilakukan dengan mencapai kebebasannya walau betapapun sulitnya, proses dan perjuangan mencapai kebebasan tanpa henti adalah suatu ciri pribadi yang sehat. Hal ini tampaknya telah dipahami oleh para pemangku kebijakan (Pemerintah) sehingga sebisa mungkin mereka menghindari kebijakan yang tampak otoriter. Tetapi bagaimanapun, sifat kekuasaan adalah cenderung memembuat segala sesuatunya teratur, rapi, dan sistematis (setidaknya, seperti yang diinginkan kekuasaan). Maka, ketika pemerintah menetapkan suatu kebijakan yang tampaknya membebaskan, sesungguhnya kebijakan tersebut tetaplah otoriter. Perbedaannya, mungkin ada pada keluasan, kenyamanan dan kelenturan ruang yang ditawarkan kebijakan tersebut. Maka, dari sini tampak kesalahan dalam mengartikulasikan kata ”bebas” dan ”aman”.

Jika Bebas diartikan keadaan tanpa ada determinasi, maka Aman diartikan sebagai keadaan nyaman dalam determinasi. Dan pemerintah tampaknya lebih condong pada yang kedua. Jadi, artikulasi bebas menurut pemerintah tidak lain tidak bukan adalah membuat nyaman masyarakat dalam berbagai determinasi yang dibuat pemerintah itu sendiri. Dari sini, secara tidak langsung pemerintah berpesan; jadilah waga negara yang aman, karena (secara tidak langsung pula) bebas belum tentu aman, bahkan dari otoritas pemerintah itu sendiri. Berarti, dalam kebijakan semacam inilah, pemerintah menghendaki masyarakat untuk berperilaku phlegmatis.

Kemerosotan kualitas hidup

Konstruksi masyarakat phlegmatis semakin lengkap dengan adanya alienasi5. Biaya hidup semakin hari semakin mahal tanpa diikuti pendapatan yang semakin meningkat. Dalam hal ini sistem ekonomi dan kebijakan pemerintah turut memegang peran penting. Ketika dalam hal ekonomi masyarakat golongan atas semakin kaya, masyarakat golongan bawah semakin miskin, dan masyarakat golongan tengah semakin tertekan dan terpolar (ke atas/bawah).

Penakanannya disini adalah pada masyarakat dalam strata ekonomi menengah ke bawah.

Masyarakat tidak bertindak macem – macem karena mereka harus bekerja, bekerja, dan bekerja apa saja untuk memenuhi kebutuhan mereka. Yang penting bisa hidup aman dan nyaman. Kualitas hidup golongan menengah ke bawah semakin merosot, orientasi pada kebutuhan – kebutuhan dasar (makan-minum, sex, istirahat, bernafas, dll) dan kebutuhan keamanan (fisik maupun psikis) telah memaksa golongan masyarakat ini untuk melakukan apa saja. Asal kebutuhan tersebut terpenuhi.

Dalam paradigma Maslow6, sekarang, setiap kebutuhan terasa semakin tinggi dan mahal untuk dijangkau. Kebutuhan merosot hingga pada kebutuhan untuk keamanan dan kebutuhan untuk bertahan hidup (kebutuhan dasar). Sedangkan kebutuhan akan cinta dan saling memiliki, kebutuhan akan esteem, bahkan aktualisasi potensi diri dipraktikkan sebagai ungkapan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan keamanan.

Dengan kata lain, kebutuhan – kebutuhan dasar dan kebutuhan akan keamanan menjadi lebih tinggi dan mahal sehingga kebutuhan – kebutuhan lain menjadi subsider bagi tercapainya kebutuhan – kebutuhan ini.



Masyarakat phlegmatis, yang cederung mengalir, tenang, teduh, tidak suka cari masalah, suka damai dan mendamaikan adalah gambaran masyarakat ideal. Mungkin, ini semacam seragam yang dikehendaki penguasa dalam mengatur rakyatnya. Dan, tentu saja keadaan ini menimbulkan banyak implikasi..



Wallahu a’lam bissshowab..









1 Hippocrates (460-377 SM), pemikir yunani klasik yang juga mendapat sebutan “bapak kedokteran”

2 August Comte (1798-1857 M): Pemikir asal Perancis, dikenal sebagai “bapak pemikir Positivisme” yang kemudian berkembang sebagai pola pikir masyarakat ilmiah pada umumnya.

3 Carl Gustav Jung (1875-1961): seorang pakar Psikoanalitic dari Swiss. Konsep Jung yang terkenal dan kontroversial adalah tentang collective unconsciousness, dimana ketidaksadaran ini adalah gudangnya puncak – puncak potensi manusia.

4 Erich Fromm (1900-1980): Salah satu Tokoh neoFreudian yang juga seorang Marxis. Fromm mencoba mengawinkan pandangan Freud dan Marx tentang manusia.

5 Teori Alienasi (Karl Marx): Pemindahan hak milik kepada orang lain; Pengambilalihan hasil kerja (upah/gaji) para pekerja oleh para pemilik alat – alat produksi, sehingga gaji yang diterima pekerja tidak sesuai dengan kerja yang dilakukan.

6 Abraham Maslow (1908-1970): Pemikir Psikologi Mazhab III (Humanis). Teori hierarky kebutuhan Maslow an sich adalah upaya manusia mencapai kebutuhan – kebutuhannya dari kebutuhan yang terendah (dasar) hingga yang tertinggi. Dari yang terendah: 1)Kebutuhan fisiologis. 2) Kebutuhan rasa aman. 3) Kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki-dimiliki. 4) Kebutuhan Harga diri. 5) Kebutuhan Aktualisasi diri.

Dalam perkembangannya, teori ini mengalami perubahan bahwasannya Aktualisasi diri tidak selalu berada diatas dan kebutuhan – kebutuhan lain tidak selalu berada di urutannya, tetapi kontekstual. Bahkan dalam tahun – tahu terakhirnya, Maslow memodifikasi teori ini, dimana kebutuhan tertinggi bukanlah Aktualisasi diri, tetapi diatasnya ada kebutuhan akan spiritualisme; kebutuhan akan keyakinan terhadap dunia transenden.



hariez_zona@yahoo.com

mahasiwa Psikologi

Guyonan Sapi!












Socialisme :

Kau punya dua sapi, kau berikan satu untuk tetanggamu

Komunisme :
Kau punya dua sapi, negara mengambil alih kedua – duanya dan memberimu dua kaleng susu.

Facisme :
Kau punya dua sapi, negara mengambil alih keduanya dan menjual susu kepadamu.

Nazisme :
Kau punya dua sapi, negara mengambil alih keduanya dan menembakmu.

Beureucratism :
Kau punya dua sapi, negara mengaambilnya, yang satu ditembak dan yang satu diperah susunya terus dibuang.

Surrealism :
Kau punya dua jerapah, pemerintah memintamu untuk kursus piano dan sepak bola.

An American Corporation :
Kau punya dua sapi, kau jual satu, yang satunya kau paksa untuk memproduksi susu sebanyak empat sapi. Kemudian kau sewa konsultan untuk mengidentifikasi mengapa sapimu itu mati.

The Cak Kholil Corporation :
Kau punya dua sapi, Kau cincang kedua – duanya.

A Germain Corporation :
Kau punya dua sapi, kau merekayasa mereka supaya dapat hidup lebih dari 100 tahun, makan cukup sekali sebulan, dan mereka bisa saling memerah susu sendiri.

An Italian Corporation :
Kau punya dua sapi, yang satu mili Silvio Berlusconi dan yang satunya milik Masimo Morrati. Mereka kau latih main bola agar dapat menang melawan kesebelasan gajah dari thailand.

A Chinesse Corporation :
Kau punya dua sapi, kau kerjakan 300 orang untuk memerah susunya dan menyatakan tidak ada pengangguran serta nilai produksi susu tinggi. Kau menangkap wartawan yang melaporkan kenyataannya.

Korean Corporation :

Kau punya peternakan sapi yang sangat besar, di atas proyek nuklirmu.

An Iran Corporation :
Kau punya 2000 pasang sapi, kemudian kau pakaikan cadar pada yang betina.

British Corporation :
Kau punya dua sapi, dua – duanya sapi gila.

An Iraq Corporation :
Semua orang berpikir kau punya banyak sapi, kau bilang pada mereka hanya mempunyai satu sapi. Tak ada yang percaya, mereka mengebom daerahmu dan menginvasi negaramu. Kini kau tak punya sapi satupun, tetapi setidaknya sekarang kau adalah bagian dari “demokrasi”.

An Argentine Corporation :

Kau punya lima pasang sapi, kemudian kau melatihnya tango dance.

An Indian Corporation :
Kau punya dua sapi, kau sembah mereka.

Indonesian Corporation :
Kau punya dua sapi, dua – duanya curian, lalu kau jual. Uang dari hasil penjualan tersebut kau simpan pada account non-budgeter yang tak jelas. Kemudian kaugunakan beberapa untuk membiayai partaimu. Tapi sebagian kau simpan untuk keluarga besar, anak dan cucumu.

Malaysian Corporation :

Kau punya dua sapi, dua – duanya kau curi dari Indonesia.


Hariez,
Pernah di post pada komunitasembunpagi.blogspot.com

Motivator & Humanity




















Siapa yang tidak kenal Andrie Wongso?

Siapa tidak kenal John C. Maxwell?


Mereka adalah beberapa dari tokoh – tokoh motivasi papan atas nasional bahkan internasional. Tugas mereka (antara lain), dengan kapasitas intelektual yang dimiliki, memandang gap yang ada pada relita dan system untuk kemudian memotivasi, memompa sumber daya manusia (SDM) agar mampu berfungsi optimal. Kata – kata seperti ”Siap..”, ”Sukses..”, ”Luar biasa..”, ”berhasil..”, ”Semangat..” dikemas menjadi sesuatu yang istimewa untuk menyadarkan potensi setiap orang. Sungguh profesi yang sangat mulia, bermanfaat bagi banyak orang dan institusi. Mungkin juga menjadi motivator tidak hanya sekedar profesi, tetapi menuntut suatu bakat yang berakar dari berbagai soft dan hard skill. Tak ayal pada konteks kekinian bisnis motivasi telah menjadi lahan kerja prospektif. Hampir setiap hari kita dijumpai para motivator amatir yang belum lulus kuliah S1, hingga motivator yang kelas wahid dengan reputasi internasional melalui hasil karya atau bahkan orangnya.


Jika memperhatikan momentum zaman, motivator memang telah lama ada seiring modernitas. Ketika memotivasi khalayak, semula banyak motivator menyajikan metode ceramah yang semi-indoktrinasi dalam ruang yang terbatas. Seiring perkembangannya, kini metode motivasi telah berkembang sedemikian rupa dalam bentuk latihan dan pengembangan (training and development); Sang motivator (trainer)[1] hadir di ruangan dengan bersenjatakan laptop dan materi yang disajikan melalui slideshow powerpoint. Dan materi tersebut ditransformasikan pada trainee[2] melalui layar yang ditembakkan dari sinar LCD (Liquid Crystal Display). Tentu saja yang utama disamping perangkat tersebut adalah cara dan style penyampaian dari sang trainer. Selain metode tersebut, berbagai variasi motivasi banyak disajikan melalui metode outdoor games/ activity. Ada yang menyebutnya Outbond[3]. Tujuan dari berbagai metode pelatihan tersebut sama; Memotivasi trainee dengan benar agar dapat menyadari dan memanfaatkan potensinya dengan optimal. Dengan kata lain ’kira – kira’ menjadikan manusia ’seutuhnya’ manusia.


Seperti yang telah tertulis di akhir alenia I, bahwa motivator (disini diperketat khusus pada trainer) di jaman modern ini semakin dibutuhkan oleh perusahaan (semakin besar dan semakin bonafide perusahaan, maka profesi motivator semakin dibutuhkan). Tugas motivator dalam perusahaan jelas; membangkitkan motivasi karyawan, menguak potensi SDMnya dan diaktualisasikan dengan optimal untuk bekerja bagi kepentingan perusahaan. Dalam bahasa kiasan, mungkin profesi ini mirip dengan ’suplemen’ yang dipercaya mampu memompa semangat serta kebugaran otot – otot altet agar tampil dalam kondisi maksimal. Atau bisa juga diibaratkan bensin dan pelumas yang membuat mesin kendaraan bekerja optimal.


Dengan didukung manajemen strategis perusahaan, rumusannya menjadi jelas, karyawan mendapat motivasi eksternal berupa gaji, dan mendapat motivasi internal yang diperoleh dari pelatihan dan pengembangan. Ketika karyawan dari berbagai lini dalam perusahaan bekerja optimal, maka hal ini akan berdampak positif; peningkatan pada grafik produksi dan pemasaran.


Industrialisasi-konsumerisme-motivator.

Modernitas dengan industrialisasinya telah melahirkan konsumerisme[4]. Berbagai perusahaan, dengan menggunakan perusahaan penyiaran dan iklan telah meninggalkan ’residu’ ingatan tentang berbagai produk dalam alam prasadar setiap individu berupa image atau brand.[5] Tanpa disadari, ini menjadi suatu sublimal conditioning[6] jika dikaitkan dengan kebutuhan pada setiap orang. Selain itu berbagai metode pemasaran yang dianggap ’bebas nilai’ didorong sehingga dapat diterima oleh berbagai masyarakat dengan latar belakang kelas, budaya, dan primordialisme yang berbeda - beda. Dari sinilah paradigma konsumerisme di ditanamkan.


Konsumerisme ini seakan menemukan daur-nya dalam hasil – hasil produksi perusahaan (karena memang itu yang diharapkan). Layaknya hukum permintaan-penawaran, Gaya hidup konsumis ini membutuhkan respon dari perusahaan dengan cara menggenjot produksi. Menggenjot produksi berarti menyusun strategi agar volume produksi ajeg dalam kisaran tertentu. Dan agar ajeg dalam kisaran tersebut maka dibutuhkan strategi kerja yang optimal dari seluruh lini departemen dan karyawan. Berarti, agar kinerja karyawan selalu optimal, (selain keputusan pemegang kebijakan strategis perusahaan) maka tugas motivator (dan kebijakan direksi melalui HRD) adalah memotivasi, membentuk karakter, dan mengembangkan potensi. Hal ini menjadi ’nutrisi’ wajib agar kepentingan perusahaan tercapai. Maka dari itu dalam konteks industrialisasi atau sistem ekonomi kapitalistik, peran motivator menjadi vital.


Dehumanisasi?

Pelatihan dan pengembangan SDM dalam konteks industri telah berkembang menjadi bisnis yang menjanjikan. Semakin Padat industri, semakin banyak trainer, motivator, dan konsultan SDM yang dibutuhkan. Semakin banyak job dari perusahaan, semakin melambung pula ’nilai tukar’ para ’pebisnis mental’ tersebut. Dari kondisi inilah para motivator saling berkomptetisi mendapatkan job dari perusahaan.


Suatu kondisi keseimbangan menuju kemanusiaan menjadi rentan apabila; Perusahaan hendak membeli program pelatihan dan pengembangan dengan harga murah, sementara para motivator (dengan lembaga pelatihan dan pengembangannya) harus berjibaku dengan sesamanya untuk mendapatkan project tersebut. Maka kondisi ini potensial memunculkan dilema; mempertahankan kualitas ideal program pelatihan dan pengembangan, atau mengukur kualitasnya berdasarkan harga yang diberikan perusahaan. Dengan bahasa lain, pelatihan dan pengembangan tidak lagi dihadapkan pada tujuan mengoptimalkan seluruh potensi pada setiap individu, tetapi ’disunat’ seperlunya untuk mengaktifkan potensi individu (karyawan) yang sesuai kebutuhan perusahaan saja. Potensi manusia ditukar berdasarkan ’nilai dan guna’.


Lebih lanjut, dengan kondisi seperti di atas, maka pengembangan SDM diarahkan untuk memenuhi target perusahaan. Sedikit mengingat cita –cita luhur humanis yang ”memanusiakan manusia”, maka setiap orang mempunyai hak memperoleh kesempatan untuk mengaktualisasikan segala potensinya. Apapun potensinya, sekecil apapun potensi itu. Bertolak dari pandangan tersebut, maka sebagai salah satu profesi yang bergerak dalam bidang pengembangan SDM, sudah semestinya para motivator menyadari dan mempraktikkannya. Jika pengembangan SDM tidak di dasarkan pada tujuan humanisme, maka dalam batasan yang luas hal itu menjurus pada dikategori dehumanisasi.


Terakhir, ketika objek pengembangan SDM itu adalah manusia, kenapa praktiknya tidak disandarkan utuh pada prinsip – prinsip kemanusiaan?


Atau disandarkan pada prinsip kemanusiaan, tetapi hanya setengah hati?

Prinsip kemanusiaan yang ’disunat’?



hariez_zona@yahoo.com
pernah di post di "komunitasembunpagi.blogspot.com"

[1] Kata ”Motivator” digunakan untuk menyebut profesi, sedangkan ”trainer” digunakan manakala motivator sedang memberikan pelatihan.

[2] Istilah yang digunakan untuk Peserta pelatihan.

[3] Metode pelatihan dengan menggunakan alam sebagai sarana kelas.

[4] Gaya hidup yang memandang barang – baran (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan dan kesenangan.

[5] Merek produk dan gunanya sesuai kebutuhan

[6] Sublimal Conditioning: Pengkondisian kognitif yang berlangsung dalam alam prasadar (setingkat di bawah kesadaran) personal.