Showing posts with label psikologi. Show all posts
Showing posts with label psikologi. Show all posts

Sunday, March 18, 2012

Spiritual Quotient dalam Dunia Industri (Sebuat telaah kritis)



Konsep-konsep mengenai Quotient seperti Adversity, Creative, Emotional, Intelligence, Quantum, hingga Trancendental Quotient begitu cepat diterima dan diserap dan dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Mungkin karena konsep-konsep tersebut secara spesifik menyampaikan potensi-potensi individu untuk dikembangkan sehingga bermanfaat. Pun bersamaan dengan itu, kesadaran akan keterbatasan konsep dan kritikan terhadap konsep-konsep ESQ bermunculan. Dan, tulisan ini berada dalam jajaran tersebut.

APA ITU ESQ DAN POSISINYA DALAM KONSTITUSI MENTAL?
Manusia dilengkapi dimensi emosi sebagai bentuk ekspresi yang disadari, dirasakan, dipikirkan, baik pada diri sendiri dan orang lain. Tindakan seseorang bolehlah rasional, tetapi akan terasa dingin, kaku, kurang berkesan tanpa balutan emosi pada prosesnya. Keberadaan emosi memberikan “pelumas” dalam bahasa-bahasa yang disampaikan dan diterima subjek. Konon, elaborasi bahasa rasional yang disampaikan, ditambah percikan emosional yang “pas” memberikan kesan lebih mendalam. Karena itu, Fakultas emosi, sama pentingnya dengan fakultas rasio.
Di zaman yang didominasi rasio ini, diskursus emosi mengemuka. Pengelolaan/pengendalian emosi yang baik, dewasa ini populer disebut kecerdasan emosi (EQ:Emotional Quotient). Predikat orang ber-EQ tinggi, diberikan kepada individu yang baik dalam mengelola emosinya. Tentu saja kesadaran pengelolaan emosi secara rasional. Sesuai dengan mental jamannya.
Kecerdasan emosi tidak hanya untuk mengelola emosi, tetapi juga melampaui itu; digunakan untuk menggapai tujuan-tujuan lain yang memprasyaratkan kecerdasan emosi. Bahkan, Goleman mengklaim, kesuksesan seseorang 20% adalah kontribusi IQ (Intelligence Quotient) sedangkan 80% adaah kontribusi EQ.
Bisa dikatakan, salah satu guna EQ dalam konstitusi mental adalah semacam metode untuk meraih tujuan dari subjek.
Setiap subjek mempunyai nilai-nilai dalam kerak dasar mental yang memberikan makna, vektor, energi dan motivasi pada tindakan. nilai-nilai tersebut memberikan makna pada setiap tindakan, sehingga suatu tindakan itu layak dilakukan. Inilah yang membedakan tingkat kepentingan dalam setiap tindakan. Keputusan atas suatu pilihan tindakan, bertolak pada kompleks nilai-nilai dasar subjektif. Ada tindakan yang sangat-penting, sampai tindakan yang paling-sangat-tidak-penting.
Nilai-nilai dasar ini tidak hadir dengan sendirinya, tetapi ada semacam Kecerdasan yang menentukan suatu nilai-nilai dasar. Kecerdasan dalam menentukan ide-ide mana yang benar-benar sahih untuk dijadikan nilai-nilai dasar filosofis, dijadikan spirit, itulah SQ (Spiritual Quotient). Ide-ide dasar ini yang memberikan dan menentukan kekuatan emosi dalam prioritas tindakannya. Dalam bentang seperti inilah, SQ dapat dipahami sebagai kecerdasan menentukan ide-ide terdalam mana yang diyakini subjek.
Eksistensi kompleks nilai ini tentu saja tidak statis. Tetapi dinamis sesuai dengan dinamika yang dialami subjek. Revisi – revisi atas kompleks nilai, atau bahkan menyeberang berganti pada ide-ide lain dapat terjadi. Proses tersebut menunjukkan sampai dimana determinasi SQ.
Konsep SQ ini juga bermaksud mereposisi EQ. Bahwasannya EQ bukanlah yang utama walaupun penting. Ada yang lebih mendasar, yaitu SQ. IQ dan EQ lebih efektif apabila ide-ide dasarnya kuat. Karena corak pengendalian emosi ditentukan nilai-nilai dasar, maka dapat dikatakan, tak ada orang yang memiliki kecerdasan emosi, bila tidak mempunyai nilai-nilai dasar yang kuat dan mendalam. Dengan kata lain, konsep SQ ini juga ‘menggoyang’ klaim goleman: 80% kesuksesan seseorang adalah berkat EQ. bahwasannya, EQ adalah metode untuk mewujudkan ide-ide yang sebelumnya telah dipilah SQ. sekitar 80% kesuksesan yang diraih EQ adalah kesuksesan mewujudkan nilai-nilai abstrak yang sebelumnya di pilih SQ.
Tampaknya, dialektika ini diakomodir oleh Ary Ginanjar dengan memperkenalkan konsep ESQ (Emotional Spiritual Quotient), dimana ide-ide dasar Islam seperti Tauhid, Rukun Iman, Rukun Islam (165 way) dijadikan ide dasar. Ginanjar Yakin bahwa nilai-niai dasar yang dibawa islam dapat membangkitkan potensi tertinggi seseorang. Membangkitkan corak emosi yang sehat guna merengkuh kesuksesan.
Nah, tepat pada titik inilah, penulis memberanikan untuk ‘memotong’ paradigma ESQ Ary Ginanjar untuk memberikan alternatif, membentangkan realita, membuka kemungkinan-kemingkinan pada yang-lain, bahwa ide-ide dasar selain yang dikandung islam -apakah itu ideology, falsafah, atau aliran kepercayan dapat- dijadikan nilai-nilai dasar. Belief, atau kearifan, tidak hanya tunggal pada satu agama, tetapi juga pada agama – agama lain. Bahkan juga dalam sistem kepercayaan misalnya ideologi, ritus adat, aliran filsafat, teologi, dll.
Demikian, konstruk pemkiran di atas akan penulis gunakan untuk mengurai fenomena ESQ hari ini

SQ = INDUSTRI “SPIRITUAL”?
SQ hari ini telah menjadi kebutuhan. Dunia Industri merupakan salah satu ranah besar yang mengaplikasikannya. Persaingin dunia industry yang semakin tegang mendorong perusahaan swasta dan negeri menerapkan training-training EQ, SQ, atau ESQ dengan berbagai varian training lainnya untuk mengoptimalkan SDM dan meningkatkan kinerja karyawannya, Tujuannya jelas; agar sukses meningkatan oplah perusahaan. Bagi Individu, ESQ, menjadi salah satu referensi penting agar sukses mencapai tujuan-tujuannya.
EQ (Emotional Quotient) dipercaya dapat mengantarkan seseorang pada kesuksesan. Demikian kira-kira jargon marketingnya. Sering kali dalam berbagai alamat web, varian training dan buku-buku motivasi yang laris-manis -yang membanjiri toko buku, perpustakaaan dan koleksi buku orang-orang modern- dicontohkan mereka yang memiliki kecerdasan ESQ mencapai kesuksesan luar biasa seperti kolonel sanders, Bill gates, Donald Trumph, Bob Sadino, dll. Atau dalam kata yang berbeda, kesuksesan, dilekatkan pada mereka yang ultra kaya, trilyuner, orang-orang yang mempunyai kekayaan finansial luar biasa. mereka model orang-orang sukses. Itulah kesuksesan. Kira-kira, jika anda ingin seperti Donald Trumph; Kaya raya, maka anda harus memiliki kecerdasan emosi.
Berbondong-bondong, mereka yang ingin sukses, mengkonsumsi informasi seperti training dan buku-buku ESQ. Harga buku-buku dan training pun tidak bisa dibilang murah, hal ini berbanding lurus dengan brand sang penulis atau trainer. Semakin dipercaya brand-nya, maka harga buku atau training-nya semakin mahal. Bisa diartikan, jika ingin menjadi individu yang memiliki ESQ tinggi maka anda harus punya banyak uang (dan tekad yang kuat,tentunya). Dengan bahasa lain, orang-orang ‘berada’lah yang paling mungkin mengkonsumsinya, paling mungkin menjadi orang yang berESQ tinggi, paling mungkin menjadi orang-orang yang ‘sukses’. Well, seperti kalimat wisdom :kesuksesan memang ada ‘harga’nya.

KRITIK PARADIGMA ESQ HARI INI
Telah dibahas di atas, bahwa EQ adalah semacam metode untuk menggapai 'kesuksesan'. 80% kesuksesan adalah karena EQ, dan sisanya adalah IQ, demikian kata Goleman. Disini, penulis menafsirkan apa yang dikatakan Goleman (dengan konsep kecerdasan emosinya), sebagai bentuk penerimaan begitu saja terhadap tujuan ‘kesuksesan’ tanpa menelaah konstruksi kesuksesan tersebut. Tujuan kesuksesan yang terpampang didepan subjek diterima begitu saja, diinternalisasi, dimasukkan dalam alam nirsadar, dijadikan nilai-nilai dasar serta dimanifestasikan dalam tindakan dan pencapaian-pencapaian. Dengan kata lain, konsep IQ/EQ/ lebih konsen pada programming potensi manusia untuk mempercanggih metode pencapaian. Sedangkan SQ, yang beroperasi pada komplek nilai-nilai yang diperjuangkan, menempatkan suatu nilai tertentu sebagai shared value.
Dari tujuan kesuksesan yang ‘diam-diam’ diterima begitu saja oleh Goleman, penulis mencoba menghadirkan telaah mengenai konstruksi kesuksesan tersebut.
Dalam konteks ini, ‘kesuksesan’ menjadi ideologinya; menjadi nilai-nilai dasar yang diyakini benar. ’Sukses’, menjadi jalan hidup. Nah, ‘sukses’ yang bagaimana? Dalam konteks ini pula, yang penulis maksud ‘sukses’ adalah kompleks nilai-nilai dasar yang dibangun dalam paradigma materialis. Tentu saja pemaknaan sukses sedemikian rupa, tidak hadir dengan sendirinya, tetapi sebentuk perayaan kemenangan kapitalis dalam menyematkan ide dibalik signifier ‘sukses’ dalam pergulatannya dengan ide-ide lain.
Ideologi kesuksesan-materi ini dilembagakan melalui institusi-institusi kapitalistik yang menjamur, meng-hegemoni, memenuhi ruang hidup sampai pada ruang-ruang yang paling privat dan tabu. Melalui aparatus ideologisnya seperti perusahaan, biro iklan, artis, trainer/motivator, bank, ilmu pengetahuan, dsb, membentuk jejaring kuasa dan memahamkan individu bahwa kesuksesan identik dengan perolehan-perolehan materi. Mimpi-mimpi mengenai kebebasan finansial, selalu up to date, terbelinya segala keinginan-keinginan dan terlampiaskannya hasrat-hasrat duniawi menjadi gugus nilai yang pantas untuk diperjuangkan. Suatu jabatan/karier pun juga diartikan sebagai penumpukan materi.
Aparatus represif, disini bekerja dengan halus melalui symbol-simbol cultural seperti rumah megah, Mercedes S-Class, Pakaian G.Armani, Dolce & Gabbana, Gelar akademik, Profesi kerja, gaya hidup, dsb. Batas represinya, individu-individu yang melenceng dari mindstream ini, tidak mempunyai mobil, jabatan, status sosial, dan berbagai atribut materi, tidak tergolong dalam hierarki orang-orang sukses! ide-ide kesuksesan yang lain menjadi terpinggirkan.
Ideologi Kesuksesan a la materialisme demikian dominan, demikian hegemonik. Inilah paradigma dibelakang kata ‘Sukses’. Membahas kesuksesan, berarti membahas perolehan dalam satuan materi. Ini narasi besarnya.

Ideologi ini telah membentuk corak/pola tindakan dalam suatu lingkaran materialis determinis. Dakwah aparatus ideologis yang sangat populer salah satunya adalah melalui berbagai training, buku-buku, dan komunitas-kominutas EQ/SQ/ESQ. yang paling terasa adalah dalam konsep EQ (umumnya EQ lebih terkenal daripada ESQ). Berbagai wacana menyatakan bahwa EQ efektif untuk menggapai kesuksesan; Dan ide-ide kesuksesan langsung dilekatkan pada model/tokoh trilyuner seperti Donald Trumph.
Pada titik ini kemampuan alamiah seseorang dalam rangka memilih dan menginternalisasi ide-ide diintervensi (Secara ‘memikat’ dibujuk untuk meyakini ide-ide kesuksesan tersebut). Ideologi personal dibentuk dari ideologi massa, Ideologi yang sedang populer.

DISKUSI
Jika EQ menjadi metode, dan SQnya adalah Kesuksesan materi, maka implikasi yang-lain adalah ide-ide dasar lain seperti agama, ilmu pengetahuan, dsb akan menjadi instrument/metode untuk meraih ‘kesuksesan’. Misalnya, berbagai ayat-ayat adi kodrati disitir seperlunya, dijadikan legitimasi untuk meraih ‘kesuksesan’. Perkembangan ilmu pengetahuan pun diam-diam mengikuti fantasmagoria ‘kesuksesan’. Imbasnya, ilmu pengetahuan yang tidak mempunyai komoditas yang dapat dikonsumsi untuk meraih ‘kesuksesan’ perlahan-lahan mati. Budaya yang tidak selaras dengan paradigma ‘kesuksesan’ pun terancam punah.


-1st picture was downloaded from: http://saysthesinglegirl.com/2009/marry-for-money/
-2nd picture was downloaded from: http://wisnuku.blogspot.com/2011/07/masalah-kemiskinan-di-indonesia.html
-3rd picture was downloaded from: http://acidcow.com/pics/14395-faces-of-poverty-33-pics.html

Saturday, November 27, 2010

Imaginary Friend: a piece of my childhood psychology (an Adlerian perspective)




My childhood was lonely; I was a lonely child. I don’t really know why it was, but I think it occurred because my character tended to be superior. However, I tended to dominate my sociality. I tended to dominate my peer groups. It had no problem with friends who have similar age range to me, but it became a problem toward number of friends who are elder than me. They thought I would be dangerous person toward their domination in such peer group; therefore, they used to insult and bother me when I gathered to the group. Their behaviors very distressed me. Although I couldn’t remember how often, how many and how numerous were it, but I can even feel it and, surely, It really hurt my heart.

What I used to do then, I isolated myself from my social or peer groups. Yet, I enjoyed being alone. I played my toys, made reliefs using sand and clay, watched TV alone. In my loneliness, as the matter of fact, I realized that I created an imaginary friend in order to company me within my days. The name of my imaginary friend is Batuk. I realized I gave it name to him and I don’t even know how I got it name. It just came to my mind, I gave it to him then he smile to me. Moreover, I simply realized that Batuk wasn’t real; he didn’t exist even though his appearance was so real, so obvious for me. It was just my imagination but I enjoyed when I had a play with him. In addition, I also created some imaginary friends soon after I created Batuk.

I don’t know why I added more imaginary friends. Maybe it caused by feeling that I really enjoy play with someone who never insults me, and always knows what I want. They used to company and entertain me anytime and anywhere I want. They kept me away for being lonely. I used to play something while imagine Batuk sitting next to me, even so, the other imaginary friends also play surrounding me and batuk. Actually, it was just my imagination and I was a loner who always lonely and did something alone. I forget how many imaginary friends I had created besides Batuk.

Thus, in my earlier social pattern age, I had a thought: If I involved in a group, I always tended to dominate it, but if I can’t dominate, it’d be better if I out of that group than become a follower within. The imaginary friend’s episode was emerged in my earlier life (when I was three years old).

My imaginary friends include batuk were gradually disappeared from my consciousness when I entered kindergarten. It is easy why they were gone; because I had new friends in my kindergarten. I felt joyful when I played with my kindergarten friend; hence, my willingness for having an ideal sociality through my imagination has completely gone.

For me, it’s easy to get superiority legitimation in school such as kindergarten and elementary school: get higher academic scores and be the top three pupils’/students’ rank. If I get those prestigious ranks, other students will give me a hood, and admit me as the clever student (this is my superiority complex pattern when I was in kindergarten and earlier time at elementary school). From those superiority complex experiences, I became more confident to join in any peer group and my big family.

I lately become aware that the profound character of mine tends to be dominance and won’t to be inferior.



Sunday, November 14, 2010

Penggerak yang Tak Digerakkan



Pemikiran ini berawal dari aksioma bahwa dalam jagad raya ini terdapat dua kosmos, yaitu makro kosmos, dam mikro kosmos. Makro kosmos adalah kesatuan system – system raksasa di belantara jagad raya yang interdependen satu sama lain. Sedangkan mikro kosmos adalah manusia sebagai individu utuh, dimana padanya terdapat kesatuan system – system yang membentuk manusia sebagai individu yang otonom tetapi sekaligus terkait dengan system makro di sekelilingnya (interdependen).

Memang ini bukan hal yang baru, dan dengan mudah dapat kita jumpai dalam teks – teks Quraniyah, filsafat timur, maupun psikoanalitik.

Kemudian yang akan dibahas dalam kesempatan ini adalah;
Apa kesamaan dari makro dan mikro kosmos?
Apa inti dari kosmos – kosmos tersebut?



MAKRO KOSMOS
Kosmos adalah sebuah harmoni. Suatu rangkuman orkestrasi semesta dimana setiap entitas di dalamnya berfungsi dengan penuh dengan berpusat pada suatu ordinat.
Galaksi, suatu entitas – entitas raksasa jagad raya yang berbentuk cenderung melingkar atau cakra, dengan wilayah pusat yang terletak di tengahnya, merangkum dan dan menggerakkan berbagai entitas dalam suatu tempo yang rumit namun harmonis.
Dalam galaksi terdapat ribuan system solar. Salah satu system solar di Bima Sakti adalah rangkuman planet – planet dan berbagai entitas ruang angkasa yang terpusat pada sebuah bintang yang di sebut Matahari; Bintang yang menjadi polar dari planet, satelit, meteor, asteroid, komet, dan lain sebagainya (entitas ruang angkasa) merangkum semua itu dalam suatu pola harmonis dimana masing – masing berputar pada titik orbitnya.

Bahkan, atom, satuan terkecil entitas fisik, dalam kondisi normal membentuk suatu harmoni dimana electron setia mengelilingi protonnya.
Kurang lebih, seperti itulah pola – pola yang tampak dari berbagai kompleks jagad makro kosmos. Entitas yang lebih besar menjadi pusat dari entitas – entitas kecil di sekelilingnya. Entitas yang lebih kecil pun menjadi pusat dari entitas-entitas yanglebih kecil lagi disekitarnya. Terdapat kompleks – kompleks entitas yang mengelilingi titik tengah/ pusat dimana entitas lain bergerak dalam harmoni.

So, jika dari entitas terkecil (katakanlah atom) bergerak mengelilingi entitas yang lebih besar, maka pertanyaanya, entitas apakah yang terbesar -yang dikelilingi seluruh entitas - entitas sejagad raya?


MIKRO KOSMOS
Seperti penulis tulis diatas, mikro kosmos adalah menyangkut tentang pusat system psikis dalam diri manusia. Bertolak dari pola makro kosmos, penulis berspekulasi bahwa realita mikro kosmos-pun menyerupai pola – pola makro kosmosnya.

Terdapat berbagai entitas yang otonom, yang beragam, yang semuanya dirangkum oleh suatu titik yang membentuk pola – pola harmonis. Titik sebagai pusat ini memimpin kompleks mikrokosmos, mengatur entitas – entitas otonom dalam pola – pola yang memungkinkan semuanya terangkum dalam suatu irama yang harmonis.

Dalam psikoanalitik Jung, Keseluruhan realitas psikis terdiri dari kompleks-kompleks arketipal yang dirangkum oleh arketip Self. Self merangkum seluruh kesadaran, persona, shadow, anima, animus, dan sebagainya dalam suatu orkestrasi psike yang otonom tetapi sekaligus terhubung dengan pusat semesta/makro kosmos.



Melalui pendekatan Qur’aniyah, pola mikro kosmos nampak pada struktur jiwa dimana Qalb sebagai inti jiwa yang merangkum eksistensi nafs, kemudian misykat (pada lapisan terluar) sabagai kesatuan individual tak terpisahkan.




TITIK SENTRAL
Struktur makro kosmos dan mikro kosmos mempunyai harmoni, pola-pola, dan kerumitan – kerumitannya sendiri, juga entitas-entitas pembentuk yang berbeda satu sama lain. Tetapi dari pola dan struktur tersebut, persamaannya adalah adanya entitas-entitas yang interdependen satu sama lain, yang dirangkum memusat pada satu titik sebagai core-nya. Hanya ada satu core, sedangkan entintas – entitas yang terjalin mengitarinya jumlahnya sangat relative, walaupun begitu, jumlah tersebut selalu diasumsikan sebagai jumlah yang selalu lengkap (tidak kurang, tidak lebih). Pusat kosmos inilah yang memegang peran vital, menjaga stabilitas, harmoni, dan unite dari kosmos. Lantas apakah yang menjadi pusat dari makro dan mikro kosmos?

Penulis mencoba mendekati hal ini dari artefak budaya. Dalam hal ini, artefak hindu berupa patung dewa kresna dimana jari telunjuknya menyangga sebuah Chakra. Cakra disini bukan diartikan sebagai senjata untuk berperang atau melindungi diri, tetapi sebagai suatu miniature makro kosmos. Bidang cakra diinterpretasikan sebagai suatu teritori makro kosmos dari pinggir hingga ke tengah. Pada bagian tengah inilah pusat chakra; tempat dimana jari telunjukk kresna menyangga chakra, sehingga chakra dapat berputar pada orbitnya. Yang dapat juga diartikan bahwa pusat kosmos (chakra) adalah dewa. Dalam hal ini dewa khresna mengatur skenario bagaimana kosmos berlangsung; khresna bertanggung jawab atas penyelenggaraan kosmos.


Artefak yang hampir sama, juga tampak pada patung dewi Kwan Im (perlambangan dari sosok sumber kesejahteraan, kesuburan, kebajikan, dll, bagi makhluk hidup) yang berdiri di tengah bunga teratai. Bunga teratai ini disebut juga mandala; lambang rangkaian keseluruhan kosmos. bulat. penuh. Totok. Jadi, sumber kehidupan kosmos berada pada inti orkestrasi kosmis tersebut bekerja.



Artefak budaya yang juga melambangkan makro kosmos ada pada misitikus sufi. adalah tarian whirling dari Rumi. Tarian ini memperlihatkan seorang penari yang melakukan gerakan berputar seperti gangsing dengan memanjatkan ayat – ayat, dan kalimat indah kepada Allah (dalam cara islam). Penulis menginterpretasikan gerakan berputar seperti gangsing ini sebagai suatu gerakan kosmos dalam harmoninya. Sedangkan doa-doa yang dipanjatkan selama menari adalah semacam ijin pada-Nya agar penari dapat berputar-putar dalam waktu lama (yang tidak mungkin dilakukan seseorang dalam keadaan kesadaran yang biasanya). Dalam arti lain, kemampuan seorang penari untuk melakukan whirling dalam waktu yang lama (kurang lebih 30 menit) adalah berkat ijin yang diberikanNya. Bekaitan dengan makro kosmos, hal ini dapat diartikan bahwa Allah adalah dari pusat dan pemilik kosmos, karena Dialah yang mengadakan dan memberi ijin bagi kosmos untuk berputar dalam harmoninya.


Mengenai mikro kosmos, secara fisik memang adalah bagian dari makro kosmos, tetapi secara utuh, mikro kosmos mempunyai teritori dan konten sendiri yang mengelilingi inti kosmos.
Pendekatan mikro kosmos ini sebagian telah penulis jelaskan dari konsep jiwa psikoanalitik dan Qur’aniyah. Dalam psikoanalitik, Self adalah pusat dari kosmos jiwa, tetapi di dalam self bersemayam arketipe imago dei; yaitu arketipe yang menghubungkan mikro kosmos pada penguasa makro kosmos; arketipe yang memungkinkan manusia terhubung dengan Tuhan; dengan Penguasanya. Dari pendekataan Qur’aniyah, qalb menjadi pusat dari struktur kejiwaan dimana kompleks nafs dan misykat menjadi entitas – entitas terhubung dan mengelilinginya. Qalb, didalamnya mengandung Ruh al-Quds, yaitu utusan-Nya di dalam diri/self, yang membawa ketetapan-ketetapan hidup (amr) si nafs di dunia ini.

Pendekatan Psikoanalitik ataupun Qur’aniyah menekankan adanya eksistensi mikro kosmos yang berpusata pada semacam entitas Illahiah yang tertanam dalam pusat jiwa. Pusat mikro kosmos. Inilah sifat interdependen sang mikro kosmos; Fisikaly, manusia tidak seberapa dibanding realitas jagad raya makro kosmos, tetapi, manusia adalah jagad mikro kosmos yang dapat langsung terhubung dengan Tuhan. Sang Penguasa makro kosmos. So, walaupun secara struktur dan konten, mikrokosmos mempunyai eksistensinya sendiri dan otonom. Tetapi mikro kosmos dan makro kosmos berpusat pada core yang sama; Tuhan. Sang Penggerak yang tak digerakkan.

Friday, November 5, 2010

Dari Jalmo ke Manungso


Apa jadinya,jika di dunia ini penuh dengan orang – orang yang hidup tanpa memahami arti keberadaanya di dunia:

Siapa dirinya?

Untuk apa dia hidup?

Apa jadinya jika dalam suatu peradaban, orang-orangnya telah terlatih untuk sebesar-besarya menumpahkan hasrat proyektif, interpelasi, hasutan?

Jawabannya, Ya seperti sekarang ini!

Saya jadi teringat pada keluh kesah Ki Ageng Soerjomentaram, seperti yang dikutip Darmanto Djatman:”Seprana-Seprene, aku durung tau ketemu wong” (dari dulu hingga sekarang, aku belum pernah bertemu orang).

Saya menekankan kata wong (orang) dari kalimat yang diucapkan dalam bahasa jawa tersebut. Dalam bahasa jawa sendiri, sejauh yang saya tahu, terdapat dua tanda bahasa yang menjelaskan manusia, yaitu: Jalmo dan manungso/wong. Manungso/wong, adalah tanda bahasa untuk menyebut orang yang benar-benar orang. Untuh. Otentik. Sedangkan jalmo, adalah tanda bahasa yang merujuk pada suatu entitas yang “mirip” manusia. Jalmo, hari ini lebih diidentikkan dengan makhluk halus, seperti jin, setan, siluman, atau makhluk jadi-jadian yang perwujudannya (jalmo/menjelma) seperti manusia. Tetapi secara filosofis dapat kita pahami juga, bahwa konsep jalmo adalah keadaan manusia yang belum menyadari tugasnya di dunia ini, sehingga belum menjadi wong/manungso (manusia yang utuh. penuh. otentik). Sebagai suatu fase dimana manusia belum menyadari eksistensinya, dapat juga berarti manusia (jalmo) dalam proses mencari dirinya, atau lebih ekstrim, jalmo tersebut kehilangan dirinya; tidak mengenali dirinya; terasing dari dirinya, dan semacamnya.

Lantas terfikir, bahwa, apakah modal sejarah –entah itu berupa kapital, pendidikan, sosial, religi, dan semacamnya- yang terkumpul sejak lahir bukan suatu proses individuasi* yang menuju pada realisasi diri? Menurut penulis, bisa ‘iya’, bisa juga ‘tidak’.

Jawaban ‘tidak’ bila jalmo, selama trajektori hidupnya, telampau menginternalisasi faktor-faktor esoterik sehingga tidak dapat mendengarkan suara hati. Bahkan suara hati yang mencuat, yang tidak sesuai dengan paradigma kesadaran, dianggap sebagai ancaman bagi kesadaran -dianggap patologis, irasional, pathetic, useless. Adaptasi yang dilakukan telah sampai pada mengorbankan keragaman subjektif, meleburkan diri pada karakteristik umum, dan menjadi bagian dari sesuatu yang lain-besar hingga jalmo kehilangan, terasing, dan tidak mengenali dirinya sendiri. Intinya, berbagai usaha sejarah seperti pendidikan, pengetahuan, capital, cita-cita, selera, diseragamkan pada pilihan-pilihan umum sehingga jalmo sulit menyingkap dirinya menjadi wong.

Jawaban ‘iya’ apabila sejarah dimaknai sebagai suatu ijtihad mencari makna terdalam dari kehidupan individu terkait (jalmo). Pencarian ini –dilakukan dengan jujur- mengarah ke dalam diri (endoterik) dimana suara hati membisikkan kearah dimana individu harus melanjutkan proses hidupnya. Di tambah lagi, secara misterius, pilihan-pilihan dari bisikan hati tersebut sinkron dengan fenomena-fenomena esoterik yang dijumpai individu terkait. Jung, menamakan fenomena ini sebagai synchronize; Keserempakan antara keadaan psikis dan fenomena fisik secara tak terduga; Kebetulan yang bukan kebetulan; Kebetulan yang penuh makna. Contohnya adalah mimpi/firasat yang menjadi kenyataan, ide yang terealisasikan, pertemuan-pertemuan tak terduga, dan semacamnya. Jung percaya di dunia ini tidak ada yang kebetulan, yang ada adalah manusia tidak tahu dan tidak dapat memahami misteri kosmis yang tak pernah tuntas. ‘kebetulan’ ini mempunyai value yang begitu-dalam membekas di hati maupun pikiran. Jika mau jujur, momen-momen synchronity sangat mempengaruhi pilihan hidup jalmo kemudian. Inilah proses jalmo menuju wong/manungso.

Kembali pada pertanyaan: apakah modal sejarah yang terkumpul sejak lahir bukan suatu proses individuasi yang menuju pada realisasi diri? Maka melalui penjelasan diatas tersirat bahwa synchronity juga merupakan semacam panduan dari hati, step-step dari proses individuasi menuju pada realisasi diri. Penemuan diri yang asli. Penuh. otentik. penyingkapan akan tugas jalmo berada di dunia ini. Terapi bagi individu-individu yang mengalami krisis eksistensial. Jawaban tentang pertanyaan-pertanyaan eksistensial; Siapa dirinya? Untuk apa dia hidup? Dan seterusnya.. dan seterusnya..

Suatu proses panjang, dari jalmo menuju manungso..

Note (*):

Individuasi: Adalah suatu proses yang dilalui seorang pribadi (jalmo) menuju menjadi individu yang psikologis: yaitu satu kesatuan atau keseluruhan psikologis yang tak terbatas dan terpisah dari yang lain.

Wednesday, April 28, 2010

BELAJAR MENGEJA LIBIDONOMI



..The sheen of silk. Draped across a mannequin..Oh, the smell of new Italian leather shoes.. Oh.. The rush you feel when you swipe your card.. And it’s approved, and it all belongs to you! The joy you feel when you’ve bought something, and it’s just you when you and the shopping. All you have to do is hand over a little card. ISN’T THAT THE BEST FEELING IN THE WORLD? Don’t you wanna shout it from the mountaintops? And you feel so confident.. alive.. And happy.. And warm..”


-Rebbecca, in Confession of shopaholic the movie-


Sistem ekonomi yang menjadikan eksplorasi libido sebagai komoditas utama untuk mendatangkan keuntungan/profit/income biasa disebut Libidonomi (Libidonomics).
Untuk menjelaskan libidonomi, kata kuncinya ada dua, yang pertama ‘ilbido’ dan yang kedua ‘ekonomi’. Pembahasan mengenai libido, banyak kita jumpai dalam pemikiran-pemikiran Psikoanalisis Freudian. Sedangkan pembahasan sistem ekonomi lebih umum membicarakan kegiatan produksi,distribusi dan konsumsi.

Libido, Dan Penjungkirbalikan Superego
Tampaknya nalar ekonomi kapitalis sangat mahfum dalam memperlakukan komoditas yang tak habis-habisnya dieksplorasi; libido. Sedikit saja pendekatan Psikoanalisa; Libido adalah nama lain dari id. Hal ini adalah pangkal dari segala keinginan manusia. Tindakan manusia bermula dari libido yang loloske ranah praksis oleh keputusan ego yang sudah mendapat persetujuan superego. Pun dalam mempersepsikan kebutuhan. Hal ini tidak bisa lepas dari konsensus struktur id-ego-superego untuk memenuhi keinginannya, karenanya, kebutuhan bisa juga diartikulasikan sebagai hasrat libidinal (keinginan) yang disetujui ego dan superego untuk segera dipenuhi. Jadi, dalam tiap tindakan manusia, selalu ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Dan ini adalah suatu peluang bagi pihak luar untuk menawarkan solusi dari kebutuhan tersebut.
Pada kesempatan lain, menarik sekali menyimak pendapat Tung Desem Waringin (TDW), bahwa libido, tidak pernah berkata ‘tidak’ terhadap segala stimulus yang datang. Sifatnya liar, pemburu kenikmatan, hanya bisa berkata ‘ya’, dan selalu ingin dipenuhi dorongannya. Di sisi lain, hanya superego yang dapat mengatakan ‘tidak’ sehingga gejolak libidinal terlarang (karena ditolak superego) itu ditekan ego ke alam nirsadar yang entah selamanya disana, atau sewaktu-waktu dapat diakses kembali oleh ego.
Dari penjelasan diatas dapat juga diartikan, agar dorongan libido lebih leluasa mendapatkan akses pemenuhan, maka informasi-informasi oposisional yang mengkonstruk superego harus disesuaikan dengan kepentingan interpelatif ideologi (tergantung siapa/apa Subjeknya. Dalam hal ini Subjeknya adalah kapitalisme). Nah, dari titik inilah dapat mengintip proyek besar kapitalisme dalam membebaskan libido dengan cara menjungkirbalikkan superego yang semula menjadi cambuk bagi id, berbalik menjadi permisif/sekutu id.
Bagaimana caranya agar proyak besar ini bekerja? Dengan menguasai pos-pos strategis kebudayaan dan mengisinya dengan values budaya konsumtif: (1)Penguasaan terhadap pop culture. (2)penguasaan terhadap media massa. (3)perluasan pusat-pusat konsumtivisme, ditambah (4)kegilaan marketing yang siap memenuhi ruang hidup individu-individu kapanpun dan dimanapun. Jika ruang hidup telah dikuasai, disadari atau tidak, perlahan-lahan values yang dibawa budaya konsumtif menginfiltrasi values lain yang mengkonstruk superego. values yang tidak linier atau bahkan bertentangan dengan budaya konsumtif di-eliminir. Mudahnya, nilai-nilai budaya terdahulu yang mengkonstruk superego digantikan nilai-nilai budaya terkini; budaya konsumtif.
Jika konstruk nilai superego telah sesuai, atau relatif sesuai dengan kepentingan kapitalisme (budaya konsumtif), disitulah tanda keberhasilan kapitalisme menjungkirbalikkan superego konvensional (superego-kantian, kata Zizek).
Di saat konstruksi superego yang didominasi value budaya konsumtif, saat itulah konsensus id-ego-superego akan lebih mudah meloloskan dorongan libidinal sebagai kebutuhan. Sedangkan, di waktu yang sama, diluar, kapitalisme telah menunggu dengan menyediakan berbagai brand dan varian produk bagi dorongan tersebut. Semua produk seakan-akan bisa memuaskan dorongan libidinal. Semua itu “berpenampilan sexy” agar cepat direngkuh konsumen. Tetapi sebelumnya, semua itu butuh transaksi ekonomi.
Jika superego telah merestui kegilaan libidinal id, maka ego tinggal mengeksekusinya:Saatnya terjun dalam arena konsumsi!

Perangkap Jouissance!
Struktur kepribadian seperti inilah yang jadi lovely victim kapitalis; individu-individu bekerja keras mencari dan mengumpulkan uang untuk kemudian melampiaskan hasratnya dalam arena konsumsi. subjek-subjek semakin tenggelam dalam budaya konsumtif, dan kapitalis semakin menikmati added values-nya.
Karakteristik libidinal dapat dipahami ketika dorongan itu terproyeksi pada suatu objek. Tetapi, yang perlu digaris bawahi disini, dorongan libidinal tidak pernah melekat tetap pada satu objek. Dia selalu berpendar-pendar pada berbagai macam objek dan juga terus menerus menuntut untuk dipenuhi. Ketika telah mendapatkan satu objek, kemudian muncul dorongan untuk mengkonsumsi objek lain.
Ini disebut jouissance. Memiliki, tetapi bersamaan dengan itu kehilangan. Isi, tetapi kosong.
Individu berusaha memenuhi suatu dorongan. ketika terpenuhi, dorongan terhadap objek itu hilang dan berganti dengan objek lain, yang belum terpenuhi. Begitu objek lain terpenuhi, di waktu yang sama, dorongan telah berpindah ke objek yang lainnya lagi. Jouissance, suatu keadaan yang seakan-akan telah mengkonsumsi untuk memuaskan dorongan kesenangan, tetapi sesungguhnya kehilangan karena objek dorongan telah berganti. Tidak ada kepuasan disini -kalaupun ada, hanya sedikit. Dan untuk menutupi perasan kecewa karena tidak puas (juga tidak senang), individu berusaha lagi dan lagi menuruti keliaran libido, namun lagi-lagi terperangkap jouissance. Seperti sebuah lingkaran setan yang memerangkap individu untuk berlari mengejar fatamorgana-fatamorgana dan kemudian mendapati kekosongan. Berlari lagi, lagi dan...

Bersamaan dengan itu, sirkulasi uang masuk ke rekening pemilik mesin produksi massal dan stake holder yang terkait semakin cepat membesar, dan semakin cepat terurai lagi dalam aktivitas arena konsumsi.

PEOPLE WITH EXHIBITION SYNDROME



Some of us may have unusual experiences like this: Sometimes, when you are take a walk, or ride the bike from a place to another place, but on the middle of your trip, in a side of the street, suddenly someone appear and stand up while showing their private parts to you. Other sample: Once upon a day, a couple expressly open up their room windows when they making love inside. That causing someone other can watch their activity whenever pass besides. Another one: Deliberately someone wear off their underwear, or wear off their bra, so that we can see the privates shape over their clothes. Have you ever got that situation? If you ever, That are some typical behaviors of a man with Exhibition Syndrome Diseases. Exhibition Syndrome is a kind of psychical diseases that the sufferers tent to show up their genital organ to someone other in common places, or another else that similars. It is very unexpected psychically disorder. We have to understand than will solve it.

Exhibition Syndrome Diseases caused by traumatic moment of sexual experiences such as: humiliations, diffidentness, and discontentedness of sexual experiences. Almost people would pleased if they have good sexual ability. But if they get humiliating about their sexual ability as a rule they will disappoint than repressed. Some people have diffident feeling about their privates because they did not have proportional size. They believe the myth that someone acquire small-size genital thing, their sexual activities would be nasty. Almost of Exhibition Syndrome diseases caused by discontentedly from sexual experiences. Discontented feelings repressed more and more, than assembled into unconsciousness become a “traumatic complex”. So, This nastily experiences leave a traumatic sexual experience complex than construct a sexual disorders behavior.

Secondly, Every disease, illness, and sickness having typical pattern, and so it is with Exhibition Syndrome diseases. Most of the Exhibition Syndrome sufferer are male, although some of them are female. But it is rarely. Man with Exhibition Syndrome (Exhibition Syndrome sufferer) usually using common places to find their victims. High way, sidewalk, city park, movie theater room, and cafe are several place that sometime utilize by exhibition syndrome sufferer to perform their disorder behavior. Exhibition Syndrome sufferer would happy, proud, satisfy, and reach incredible orgasm when the victim wander, scare away, frightful, or panic with their (exhibition) activity. Otherwise, Exhibition Syndrome sufferer disappoint if the victim have a careless manner. Therefore, man with Exhibition Syndrome tend to approve their sexual ability to the other.

We can find solutions to solve the disease and recovery the sufferer’s condition. Guidance and counseling therapy it’s a good choice to repair their attitude and have sex-educations. Second solutions, we can using Hypnotherapy. This therapy taking over the consciousness into unconsciousness to repair the memories that contain “traumatic-complex” such as humiliation, diffindentness, and discontentedness of sexual experiences. Another significant part beside therapist are changing the environment. As we know, environment is a significant factor that determined our mind, attitude, and behavior. Sexual disorder behavior seems like Exhibition Syndrome could appear because of environmental pressure. Humiliation, incorrectly sex information, peer group, and myth of sex are several of environment part that have tension to arrange sexual disorder seems like exhibition Syndrome Diseases. So, several therapist methods could work to solve Exhibition Syndrome problem.

Overall, this explanation bring us to conclusion that we should know, people with Exhibition Syndrome Diseases are not our enemies, but they are people who needs help to repair their conditions become normal people again. People with Exhibition Syndrome are same with us, they need affection.

Thursday, March 25, 2010

Hiperrealita Hajjah (sebuah tinjauan psikologi)




Membuka – buka dan membaca lagi, apa yang tertuang di buku harian memang menyenangkan, lucu, getir, ataupun kagum dengan kenaifan diri kita sendiri. Tulisan dibawah ini sempat penulis sarikan di buku harian beberapa waktu lalu. Nah, karena stres dan shok disebabkan dosbing yang tidak bisa membimbing selama seminggu (2-8Feb) sementara deadline untuk wisuda april semakin dekat, maka untuk melepaskan stressor ini penulis menyublimasikannya dengan menulis artikel.

Ini cerita manakala penulis berinteraksi dengan keluarga seorang hajjah. Terdiri dari hajjah itu sendiri dan seorang anak tiri (Bunga:nama samaran) perempuan berusia dua puluh tahun. Cerita ini ada karena awalnya penulis sebelumnya bermaksud melakukan pendekatan (ta’arruf??) dengan putri tirinya itu. Tetapi cerita yang terjadi sungguh menarik. Disini penulis ingin mengupas fenomena seorang hajjah yang penulis ragukan status hajjah dan kemabrurannya.


:>
Seperti halnya kerja persona yang tampak selaras dan menyenangkan dengan kondisi sosial, pertama penulis diterima dengan sangat ramah oleh sang hajjah (selanjutnya penulis gunakan nama: Bunda). Terjadilah tanya-jawab dan interaksi yang membuat penulis dekat tidak hanya dengan Bunga, tetapi juga dengan Bunda. Seiring berjalannya waktu, penulis merasa ada yang agak berbeda dengan Bunda, setelah penulis perhatikan, penulis jarang menjumpai buku – buku, pun yang berbau agama. Hanya sedikit. Perbincangan penulis dengan Bunda pun tidak pernah menyentuh relung – relung agama secara mendalam, entah itu mengenai syariat, tarbiyah, sejarah islam, atau semacamnya. Mentok – mentoknya ya berulang – ulang cerita mengenai pengalamannya ke tanah suci Mekkah dan dampak sosial setelah Bunda melaksanakan ibadah haji (suasana di sekitar ka’bah dan hajar aswat, pulang membawa banyak oleh - oleh dibagi – bagi untuk sekampung, kepuasan setelah ibadah haji, dll), menjalankan ibadah rukun islam, sehingga penulis mempunyai hipotesis banyak keyakinan agamanya didasarkan pada harapan dan ketakutan akan: pahala-dosa serta surga-neraka. Menurut penulis, ini semacam pandangan agama yang tradisional-konservatif, tidak mendalam, dan cenderung mistik.

Dari keraguan itu, penulis tertarik untuk menyelidiki dan mengupas kualitas hajjah serta kemabrurannya. Untuk itu penulis mencari informasi dari beberapa tetangga Bunda. Penulis bertanya ikhwal kehajjahan Bunda pada teman penulis yang juga tetangganya, katakanlah namanya Kris. Ternyata, Kris pun sempat mempertanyakan status kehajjahan tetangganya itu. Dahulu sebelum Bunda berangkat ibadah haji, Kris mengenalnya sebagai wanita yang mandiri, tidak menikah, cenderung tertutup dan jarang bersosialisasi dengan tetangga, tidak mau disalahkan, dan berkeprbadian paradoks bipolar (kadang – kadang sangat baik, tetapi bersamaan dengan itu, bisa juga berubah sebaliknya). Intinya, Bunda baik jika seseorang, sesuatu atau suasana tertentu sesuai dengan kehendaknya. Kris pernah menanyakan juga ikhwal kehajjahan tersebut pada ayahnya (ketua RT di lingkungan situ), dan ayahnya menjawab berikut (mengikuti gaya penuturan Kris) “yo ngono kuwi…..” suatu jawaban mengambang yang penulis tafsirkan cenderung negatif. Masih informasi dari Kris, ia seakan - akan tidak percaya jika tetangganya itu hendak menunaikan ibadah haji. Ada suatu harapan dalam hati Kris, semoga sepulang dari tanah suci ada perbedaan dalam diri Bunda. Tetapi tampaknya harapan Kris itu tinggal harapan karena tidak ada perubahan yang signifikan dari Bunda.

Orang kedua yang penulis ambil informasinya adalah Bunga, anak tiri Bunda. Bunga -yang kuliah di sebuat STAI (Sekolah Tinggi Agama Islam) jurusan Tarbiyah di sebuah kota sepanjang pantura- menyebutkan, adalah fakta bahwa ibunya hajjah karena telah melaksanakan ibadah ke tanah suci Mekkah. Tetapi sebagai hajjah, tasawuf iBu tirinya tersebut tidak lebih baik dari orang – orang yang belum pernah ibadah haji.

Berawal dari keragu-raguan tersebut, penulis semakin menarik untuk mengupas fenomena ini. Informasi yang lebih mendalam penulis dapatkan dari Bunga, anak tirinya. Bunga berpendapat bahwa iBundanya lebih dan sangat mementingkan status sosialnya daripada substansi hajjah, bahkan lebih penting daripada anak tirinya sekalipun. Penulis akan mengupas hal ini lebih banyak dibawah.

Sejarah menempatkan seseorang dengan status haji/hajjah pada posisi yang dihormati, ini aksioma, dan ini yang terjadi pada umat islam dalam konteks budaya masyarakat jawa. Sebuah perpaduan yang indah sejak sejarah walisongo, dimana citra haji/hajjah begitu dihormati sebagai seorang yang taat dan kuat secara agama, bijaksana, islamnya sempurna, memberikan energi positif pada lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Begitu kuat citra yang melekat pada status haji/hajjah sehingga penunaian ibadah haji dari indonesia dari tahun ke tahun selalu ramai.

Dalam konteks Bunda, penulis menggunakan pendekatan deduktif dengan premis bahwa; disadari atau tidak, diakui atau tidak, langkah Bunda menunaikan ibadah haji lebih berat pada usaha untuk medongkrak status sosialnya daripada sebagai ibadah untuk menyempurnakan keislamannya. Bunda adalah wanita yang tidak menikah, tinggal sendirian, dalam gelombang budaya yang mementingkan citra – citra, tentu sebuah problematika dengan beban yang tidak ringan. Belum lagi persepsi masyarakat mengenai masalalu Bunda yang kelam dan sejumlah priblematika lainnya, tentu saja hal ini menekan eksistensi dan memperburuk citranya.

Sebagai seorang muslimin (minimal KTPnya tertulis islam), sebatang kara, dan mulai berumur, tentunya tidak ada sandaran hati, dan tempat mengadu selain kepada Allah SWT. Nah, dalam ketidakberdayaannya ini Bunda menunaikan ibadah haji. Haji, idealnya memang untuk menyempurnakan rukun sebagai muslim dan muslimin. Tetapi tentu saja tidak bisa dipukul rata bahwa semua haji/hajjah mempunyai motivasi yang sama semacam itu. Banyak motivasi lainnya. Dalam konteks Bunda, kepergiannya ke tanah suci adalah untuk mengadukan ketidakberdayaan eksistensinya pada apa yang ia pahami sebagai Allah SWT melalui simbol – simbol Ka’bah, Hajar Aswat, wukuf, lempar jumrah dll.

Sebuah ritual pemujaan terhadap simbol – simbol “petanda” agama bisa juga melupakan”penanda”nya, atau biasa disebut fetishisme agama (Religion fethisism). Kepuasan pengidap fetishisme agama ini akan terasa setelah dia berhasil memuja bahkan memiliki simbol – simbol agama. Dalam konteks Bunda, sepulang dari tanah suci dan menyandang gelar hajjah, hilanglah suatu perasaan inferior dan siap menyandang status baru dalam masyarakat (tentunya lebih terhormat:hajjah). Suatu eksistensi dengan superioritas simbol budaya+keagamaan yang mampu mengubah struktur disekitarnya.

Demikian, status hajjah menjadi ideologi bagi Bunda. Ideologi ini pula yang menjadi modal sosial untuk mendongkrak keberadaannya. Berbagai usaha dilakukan Bunda asalkan selaras dengan citranya sebagai hajjah, dan berbagai upaya yang akan merusak nama baik Bunda sebagai hajjah akan dimurkainya. Dari pengalaman penulis berinteraksi dengan Bunda, dari banyak statemen yang dikemukakannya, terasa sekali penekanannya sebagai seorang hajjah. Selalu ada frase “…Saya ini kan hajjah, mas…”.dan seterusnya dan seterusnya…….. Juga penekanan kesenangan manakala ada kolega dan tetangga yang datang bertamu dengan mengucapkan “..nikmatnya…nikmatnya….” sebuah luapan kesenangan dari seorang yang hidup sendirian dan ingin keberadaannya diakui. Atau mungkin juga ketakterhubungan bunda secara sexual terbayarkan dengan persetubuhan antara sublimasi dan keinginan untuk mengAda dalam bingkai citra hajjah.

Dalam kehidupan keluarga, berdua dengan Bunga, putri tirinya, otoritas Bunda terasa begitu kuat dan berlebihan. Misalnya, beliau malu kalau Bunga dekat dengan laki – laki tanpa ada hubungan yang jelas karena ini akan merugikan nama baiknya. Bertolak dari itu pula, Bunga yang -secara personal- sebelumnya tidak pernah dekat (kurang bergaul/berinteraksi) dengan laki – laki namun kemudian berpacaran dengan kumbang mendapat perhatian kelewat serius dari Bunda. Kumbang seorang laki – laki yang sudah cukup umur, sarjana, sudah bekerja, dan beriman. Mungkin kumbang adalah karakter dengan modal yang disukai Bunda untuk mendampingi Bunga. Karena itu, daripada persepsi masyarakat menjadi negatif, dengan segera (untuk tidak mengatakan terburu – buru dan gegabah) kumbang dan keluarganya diminta Bunda untuk melamar Bunga. Bunga yang sebenarnya tidak menginginkan perjodohannya secepat itu -karena dia baru setahun tahun kuliah dan masih terlalu muda- tak kuasa menolak karena otoritas ibunya yang terlalu kuat. Maka, Bunga pun menerima lamaran itu.

Contoh lain, obsesi superioritas Bunda tampak pada keptidakpercayaan pada anak tirinya dengan menekan Bunga untuk kuliah di Batang saja. Itupun dengan mengambil jurusan yang dikehendaki Bunda:Tarbiyah. Sebuah jurusan yang tidak diminati Bunga, namun dipaksakan (kata Bunga:daripada tidak kuliah) karena ini akan memperkuat cintranya sebagai keluarga hajjah. Pola asuh yang otoriter ini tampak pada pembatasan kebebasan Bunga untuk bersosialisasi, pembatasan Bunga untuk berinteraksi dengan laki – laki yang bukan muhrimnya, pembatasan Bunga untuk menilai dan mengambil keputusan tentang seseorang, sesuatu dan suasana tertentu, serta banyak pembatasan lainnya.

Pembatasan – pembatasan ini tentu saja tidak menguntungkan perkembangan Bunga. Dalam ketidak berdayaannya diasuh ibu tiri, Bunga tumbuh menjadi anak yang penurut (atau terpaksa menuruti?), lemah dalam logika, sulit untuk berpikir panjang dan berpikir serius, susah mengendalikan emosi (gampang marah dan cengeng), bahkan ada simptom distress pada Bunga yang mengarah pada tindakan bunuh diri bila mendapat tekanan luar biasa. Beberapa kalimat yang sempat Bunga ucapkan sangat mengarah pada suatu keadaan depresif, tidak berdaya, dan agresif pada diri sendiri. Berikut adalah beberapa diantaranya “..Biarin! mungkin ini sms terakhirku.. jika setelah ini aku tidak sms lagi berarti aku sudah mati ketabrak [truk] tronton..”. Kalimat lainnya “..enak sekali punya oranag tua kandung..” dan, “..memang ada Bunda..tetapi rasanya pasti beda..enak sekali punya orang tua kandung” juga kalimat ini “Ibu kalau muncul egoisnya, tidak memperhatikan aku..padahal aku masih sakit, tetapi disuruh mengantarnya ke pasar..”. Dari beberapa kalimat di atas, ada kecenderungan Bunga untuk memberontak (agresif eksternal), tetapi adanya rasa ketidakberdayaan menyebabkan Bunga lebih banyak nrimo dan mengarahkan agresi pada diri sendiri (agresi internal) seperti kecenderungan bunuh diri itu. Hal ini diperparah dengan sikap dua kakak kandung Bunga yang tidak mempedulikannya (Bunga punya dua kakak, semuanya sudah berkeluarga, salah satu ada di sebuah kabupaten di jawa tengah bagian pantura dan satunya lagi ada di sebuah kota besar di sebelah barat Jawa).

Kembali ke Bunda. Sampai disini seakan muncul pola - pola dimana Bunga dijadikan alat untuk memenuhi obsesi Bunda, terlepas bagaimana pemahaman Bunda akan kondisi kejiwaan pitri tirinya tersebut. Pada saat murka, tidak jarang Bunda mengata - ngatai anak tirinya tersebut (maaf) Lonte.Itu yang paling ringan, perkataan lain yang lebih agresif pun akan keluar dari mulutnya. Silahkan pikir sendiri kata- kata apa saja yang lebih parah dari (maaf) Lonte. Sebuah teror psikis yang luar biasa traumatic bagi pertumbuhan anak perempuan sebatang kara dan tak berdaya seperti Bunga.

Kalimat yang bisa mewakili, mungkin seperti ini "Bunga sudah mati. Yang ada sekarang tinggal boneka perempuan yang harus menuruti ambisi - ambisi Ibu tirinya."
Kasihan juga Bunga, Ahh... Bunga...

hariez_zona@yahoo.com
pernah di post di komunitasembunpagi.blogspot.com