Thursday, March 25, 2010

Catatan Surveyor I




Hari-hari ini, aku benar-benar menjadi salah satu pecandu Facebook (FB) yang sehat karena tiap hari,bangun tidur,langsung buka facebook padahal muka masih ngantook (lho..lho.. malah berkicau). Ya, begitulah, kadang sampai tak sadar kalau credit balance sudah habis hingga loading mode-nya enggak berhenti-berhenti petanda enggak bisa mengakses koneksi GPRS. Haha.. tetapi Alhamdulillah pagi tadi bisa mengakses FB lagi. Lewat HP.

Kutekan kursor ke bawah, dan otomatis kulihat beberapa status dan tautan berderet rapi di beranda, ada teman status teman SMP yang metal abis, ada adik kelas kuliahan yang upload foto lagi narsis sama selingkuhannya, ada announcement kuis ngawur berjudul “Umpatan apa yang paling cocok buat kamu?”, ada status cinta-cintaan, ada status keluhan-keluhan (yang salah tempat dan sasaran), ada, yang statusnya seperti puisi enggak jelas, serta ada juga status pelayanan (untuk tidak menyebutnya propaganda).

Huaaahhmm.. (bentar, tk nyruput kopi.. -slruurlph.. akh.. hrrrghh!-)

Untuk jenis status yang terakhir, di beranda-ku banyak tuh yahg kayak gitu. Sung! misalnya pagi ini nih, begini katanya :

”ungkapan Bangsat,’pateni’ ketidakjujuran menunjukkan cara berpolitik yang memundurkan peradaban…(banyak yang salah pilih);;2014 jangan salah pilih lagi. Jadilah pemilih yang cerdas”

Emangnya peradaban itu maju,mundur, meninggi, menurun, bergerak kesamping, melompat-lompat, meluas, mendalam, atau menciut? Ahh, sudahlah..
Nah, ku ‘paste’ persis seperti aslinya, sampai tanda ‘titik-koma’ tercetak dobel pun kubuat demikian. Ya, tapi.. males amat sih mau komen, lha wong 2014 masih lama kok. Apalagi 2012 besok konon katanya kiamat.. hehe tapi akhirnya ku kasih ‘jempol’ dah.. ya itung-itung yang nulis status tuh orang penting yang gatel, kemudian nyeberang dari kiri ke kanan.. Akh, gpp-lah. Gitu-gitu juga manusia.. sorry juga nih,enggak nyebut merek. Ntr malah terjerat UUITE, piye jal?

Emang sih, ga tak ksi komen.. tp mlh bikin ngelindur..
Uhm, kembali ke statusnya. Kalau mau di telisik, mau di kupas, mau ditafsirkan dengan kerangka teori manapun, dengan metode secanggih apa juga, bisa. Tapi untuk apa? Wong saya lagi ngelindur kok.

Akan tetapi dalam kondisi ‘tidur-tidur ayam’ ini, seakan-akan status itu memicu ingatan saya tentang perjalanan ke sebuah desa miskin di sepanjang teritorial pantura, jawa tengah -namun orang-orang dan bahasa yang di pakai ternyata diimpor dari jawa barat. Desa ini tertelak di tengah-tengah persawahan milik tuan-tuan tanah yang bukan penduduk desa itu. Sebut saja desa ‘Pakenton’ (atau apalah,sesuka anda).

Kepentingan saya dolan ke desa Pakenton adalah untuk keperluan survey menjelang Election Party membawa bendera sebuah lembaga survey terkemuka yang dipimpin ahli statistik lulusan luar negeri (keren enggak tuh?). Tp kemarin di tuduh aktivis LSM Bendera, kata mereka, lembaga ini menerima kucuran dana dari Bank Century (Century-Gate. Tapi sepertinya ga benar yak?).

Salah satu konsentrasi survey adalah untuk mengetahui kesiapan masyarakat menjelang pemilu. Ada beberapa ingatan yang mengalir pelan ke bantal tentang hal ini. Saya ingat ada yang penuh emosional mendukung partai ‘kambing hitam’ karena kemarin baru diberi stiker-nya oleh sang cucu. Benar-benar hanya stiker. Enggak ada yang lain. Ada juga simpatisannya pak Harto: “Mas,saya ini, hidup-mati,ikut pak harto,mas. Kalau enggak pak Harto saya enggak mau”. Okelah,saya bisa maklumi karena di desa ini enggak ada Koran. TV juga jarang. Baca Koran pagi-pagi sambil nge-teh dikira kompeni.

Itu tadi hanya kasus-kasus tertentu. Tetapi secara umum, hasil survey menunjukkan kalau masyarakat tidak mempunyai persiapan menjelang pesta nasional paling mahal. Padahal (waktu itu) pemilihan tinggal beberapa bulan lagi. Yang ada dipikiran penduduk desa Pakenton adalah: “besok makan apa?” masalah pemilihan umum,dipikir ketika hendak ke TPS dengan bekal bisik-bisik tetangga yang ternyata suksesor partai ‘moncong babi’ yang memang banyak ngepet di pedesaan seperti desa Pakenton. Apa yang dipilih para tetangga, apa yang dipilih sanak keluarga, itu yang dipilih. Padahal kelompok acuannya itu juga menunggu ndok blorok dari kabar angin kepetan babi. benar- benar mengamalkan sila ke -3, dan LuBer (langsung umum, bebas rahasia).

Yah, kira-kira begitulah desa Pakenton menyiapkan dirinya merayakan demokrasi-demokrasinan. Komplikasi lain yang seingat saya tidak tercatat hasil kuesioner adalah; rakyat memilih secara emosional (atau mungkin serampangan,ngawur,dsb) sesuai dengan tim sukses partai mana yang paling dekat dengannya. Dan itu baru di bahas ketika hari-H.
Sisi lainnya lagi, dari sisi surveyor, entah bagaimana interpretasi atas data statistik kuesioner itu nantinya, yang penting manipulasi atas celah-celah metodologi tersebut tidak menyalahi petunjuk pengisian, tidak mengurangi tingkat validitas, reliabillitas, dan yang paling penting tidak terkena spot-check.

Pengalaman lain di sebuah desa di perbatasan semarang-demak yang selalu sepi ketika siang dan angker kalau malam; yang HP kepala desa-nya selalu dibawa anaknya; yang kalau telfon ke rumah, diangkat oleh istrinya dengan nada marah-marah mengatakan “bapaknya tidak ada!”

Kita sebut saja desa ‘Nglebok’. Persiapan pemilu di desa Nglebok pun terjadi dengan instan, tetapi agak lebih canggih dari pada desa Pakenton. Disini yang dominan adalah partai ‘matahari ubanan’. Mereka bertransaksi dengan warga desa, untuk mencontreng partai caleg dan calon presiden yang diusung. Gantinya; pavingisasi jalan-jalan di sepanjang desa, dan pembangunan masjid desa (pembangunan masjidnya waktu itu masih pending, baru setengah jadi. mungkin akan diselesaikan setelah pemilu sambil melihat perolehan suara masyarakat desa Nglebok). Yang lebih canggih lagi, beberapa penduduk desa yag berpikir ‘progressif’, walaupun jalan-jalan desa telah di paving, mereka masih berani melelang ‘hak suara’ pada partai yang mau membeli dengan harga termahal. Nah,saya tidak ingat betul, apakah fenomena ini terungkap kuesioner yang hampir seluruhnya adalah pertanyaan tertutup.

Lebih canggih lagi, system ini ditangani beberapa warga (mungkin dengan musyawarah) ditunjuk sebagai negosiator pada partai-partai terkait. System seperti ini membuat warga desa Nglebok secara efektif dan efisien menentukan pilihannya pada saat pemilu. Jadi, kalau belum hari –H, yaa mikir kerjaan saja. Nanti pas hari-H, nyontrengnya sesuai dengan anjuran para Negosiator.. Hmmm.. mungkin systemnya lebih canggih lagi? saya tidak tahu.

Yang jelas, kesiapan responden yang disambangi surveyor jelas tidak ada. Bahkan ada pengangguran yang benci dengan pemilu karena menurut dia, pemilu bukanlah perjuangan aspirasi rakyat, tetapi, pemilu, dan partai-partai politiknya itu, tidak lebih dari sekedar tempat kerja, tempat cari duit bagi para eksponennya: kalau duitnya enggak kuat, aspirasinya enggak sampai. (entah siapa yang memberi pengertian/provokasi semacam itu pada pengangguran yang malang ini). Disamping itu, hampir sama dengan yang terjadi di desa Pakenton, di desa Nglebok ini juga ada simpatisan pak Harto, katanya:”Pada jamannya pak harto itu uenak mas, apa-apa murah walaupun itu uang negara hasil ngutang. Negara kere, atau apa.. biar. yang penting wong cilik seperti saya ini bisa menikmati harga murah, harga gabah tinggi. Selain itu, saya enggak peduli mas! tapi sekarang, apa-apa mahal, cari kerja susah, beli pupuk mahal, gabah dijual murah..”

Kira-kira seperti inilah yang mendasari masyarakat desa Nglebok untuk mengkomersiilkan dan melelang suara mereka pada partai-partai ‘haus darah’.

Dari desa Pakenton ke desa Nglebok, penulis memang menjumpai dan mewawancarai masyarakat akar rumput, bahkan secara pendidikan (formal), mereka juga akar rumput, tetapi dari sedikit itulah, penulis mencoba meraba-raba bagaimana masyarakat akar rumput menyikapi dan memperlakukan perayaan pesta demokrasi.

Eh, ada pengalaman lain. Kasus kali ini melibatkan penduduk yng secara pendidikan bukanlah termasuk grasroot. Mahasiswi, gitu loh. Singkat cerita, penulis dulu dekat dengan wanita ini. Hingga pada saat hari pemilihan, penulis mendapat SMS seperti ini:
“Mas, milih apa?”,
kujawab “aku atheis”.
Kemudian dibalas “atheis? lho kok enggak nyontreng?”
kutanggapi “enggak ada yang sreg”
dibalas “mas jahat”
“lho,kok?” balasku bingung
kemudian, tanggapannya mengagetkan “Mas Jahat!, kalau enggak nyontreng berarti mas enggak sayang sama aku!”
Saya jadi bingung; “apa hubungannya tidak mencontreng dengan jahat?”; “apa hubungannya tidak mencontreng dengan ‘sayang’”?
Nalar apa yang sebaiknya kupakai untuk memahami kalimat tersebut?
Oooohh.. akhirnya saya ingat kalau sahabat dekatnya adalah tim sukses dari partai ‘pohon dedemit’, juga tim sukses dari caleg partai ‘gurita narsis’ maka apapun yang di contrengnya pun tidak lepas karena kedekatan emosional dengan sahabatnya, sehingga kampanye bisa dilakukan dengan pendekatan personal. Dan mengikuti alur ini, akhirnya memilih partai, caleg, ataupun capres pun emosional. Ternyata, sekaliber mahasiswa, jika tidak mendapat pendidikan politik yang memadai pun, tetap sama saja dengan mereka yang secara pendidikan adalah grassroot.Cumonalism lebih kuat dari pada individual interest. Hmmm..

Tuh,khan ngelindur kemana-mana..

Lha terus, apa hubungannya dengan status FB yang diatas tadi?
Sederhana saja, status itu tak anggap semacam pendidikan politik; meningkatkan kesadaran politik rakyat (rakyat:yang punya FB, berteman dengan pembuat status,dan lagi OnLine) supaya 2014 tidak salah pilih ‘lagi’ partai calon legistalif ataupun calon presiden.

Bah, tetapi boro-boro bro, lama amat.. 2014. Masih nunggu 4 tahun. Lagian yang dimaksud Seperti kasus di desa Pakenton dan Nglebok, mana sempat mereka FBnan? Lha wong hari ini “mikirnya besok mau makan apa?” Bukan mikir 2014! Apalagi mikir menu makanan hari ini, dihubungkan dengan kesalahan memilih partai dan presiden? Cuma satu atau dua yang mikir seperti itu.

Bah,Kernet naik ojek;kagak nyampek jek……

Sepertinya jadwal sehari-hari mayoritas masyarakat negeri demokratis ini terlalu penuh sesak bila digunakan untukn berfikir 4 tahun lagi nyontreng apa? Kecuali secuil oknum masyarakat yang memang political interest-nya tinggi.

Duhh.. kopinya habis..


www.formspring.me/Hariez

No comments: