Thursday, March 25, 2010

Kepentingan Alam Vs Kepentingan Manusia



Taoist: “Is there anything in the world more marvelous than the forces of Nature?”

Hui Hai (Zen Monastery): “There is..”

Taoist: “And what is that?”

Hui Hai: “The power of comprehending those natural forces.”

 

Jaman Kolobendu

Klasifikasi jaman yang pernah dituliskan Roggowarsito[1] dalam serat Joyoboyo[2], manusia akan melalui sebuah zaman yang disebut ‘zaman kolobendu’, yaitu zaman yang penuh dengan bencana, penjungkirbalikan, kerusakan dan pengrusakan serta berbagai macam kegilaan, sehingga muncul idiom “sing orang edan ora uman” (yang tidak edan tidak kebagian). Tidak heran jika Dostoevsky berpendapat, hari ini, kegilaan (edan) adalah sesuatu yang ’sexy’. Dan kita sepakati saja bahwa sekarang umat manusia sedang berada di tengah jaman kolobendu seperti prediksi Ronggowarsito. Pokoknya percaya dulu saja.

Jaman kolobendu diantaranya ditandai dengan banyaknya bencana. ’Bencana’ dalam pengertian apapun, dalam bentuk apapun. Dalam tulisan ini lebih difokuskan pada apa yang dimaksud bencana alam seperti Banjir, gunung meletus, Kekeringan, Badai, Gempa, tsunami, dan semacamnya. Tetapi, dalam kesempatan ini kita tidak akan mendiskusikan dampaknya bagi manusia dan peradabannya, melainkan membahas ontologi dari fenomena ’bencana alam’ ini.

Bahwasannya, alam ini telah terbentuk berjuta – juta tahun lamanya, bahkan konon, enam kali lebih lama sejak manusia pertama (homo sapien?) ada di bumi. Bermula dari asumsi bahwa dalam perjalanannya, alam (khususnya bumi) selalu mencari dan menuju suatu keseimbangan, asumsi ini akan penulis gunakan untuk mengupas ontologi ’bencana alam’. Misal seperti berikut ini;

v     Wilayah disekitar gunung berapi berupa tanah labil nan subur adalah suatu keseimbangan karena pada saat erupsi, gunung memuntahkan berbagai material ”bergizi” bagi tumbuhan.

v     Pohon – pohon di tanah yang miring sebagai penahan aliran air hujan dan media peresapan air ke dalam tanah adalah keseimbangan.

v     Daerah katulistiwa lebih panas dan berbagai karakternya berbeda dengan daerah kutub adalah keseimbangan karena perbedaan intensi dan bidang penerimaan cahaya matahari.

v     Ketika ada herbifora, maka ada karnifora dan omnifora serta pengurai adalah keseimbangan.

v     Ketika jumlah tikus semakin banyak, penanda dari ular sebagai pemangsa alaminya mengalami penurunan jumlah adalah juga keseimbangan.

v     Pun pada saat musim panas, debit air per-milimeter semakin sedikit dan pada saat musim hujan semakin banyak adalah keseimbangan.

v     Ketika suhu bumi naik menyebabkan pulau – pulau es di kutub mencair berakibat pada permukaan air laut naik adalah keseimbangan.

Kembali ke ’bencana alam’. Mari kita lihat suatu fenomena yang oleh manusia disebut ’bencana alam’ dalam perspektif keseimbangan alam.

Pada Planet bumi, terdapat gravitasi. Segala keseimbangan alam akan tercipta manakala tidak bertentangan dengan gravitasinya;

v     Misalnya benda yang terlempar setinggi apapun, selama masih dalam cakupan gravitasi, maka benda itu akan jatuh.

v     Air mengalir, selalu mengalir menuju permukaan tanah yang lebih rendah.

v     Jembatan yang tidak kuat lagi menahan beban maka akan ambrol.

v     Benda yang volume dan massanya lebih besar, maka bobotnya lebih berat.

Fenomena di atas membuktikan bahwa bagaimanapun, keseimbangan alam berbanding lurus dengan gravitasi. Dalam proses pencapaian keseimbangan -entah apapun dan bagaimanapun konstelasi dan komposisi yang menyusunnya-  dari awal terbentuknya bumi hingga entah sampai kapan, keseimbangan alam akan selalu menyertakan gravitasi dan tidak akan menghianatinya.

 

Manusia:Sang khalifah penggeser keseimbangan alam?

Dari sudut pandang evolusi, manusia adalah hewan berakal sehingga mereka mampu mengeksplorasi alam dengan akal/kecerdasannya. Hanya manusia yang berpotensi merekayasa, memodifikasi, memanage, meng-akal-i, menyulap, mengeksplorasi, hingga menggeser konstelasi keseimbangan alam. Realitanya dapat kita saksikan manakala hutan belantara diubah menjadi perkebunan, bahkan pemukiman dan kota – kota urban. Mengeruk, membelah bukit  untuk lintasan jalan Tol, juga untuk mendapatkan mineral – mineral berharga. Menggunduli hutan dan gunung untuk penanaman hortikultura. Menyedot isi perut bumi untuk mendapatkan berbagai bahan bakar fosil. Dan berbagai macam eksplorasi alam lainnya.

            Dari sudut pandang keseimbangan alam, hal ini jelas mengganggu keseimbangan. Hujan yang airnya dapat diserap hutan malah mengalir langsung dan membawa kompos yang menyuburkan tanah. Tebing – tebing curam akibat pengeprasan bukit sewaktu – waktu dapat longsor apabila tidak seimbang dalam menahan beban gravitasi, Penambangan yang berlebihan akan mengakibatkan perubahan stabilitas bentuk/kontur permukaan tanah. Polusi akibat aktivitas manusia mengganggu stabilitas atmosfer. Menipisnya atmosfer akan mengurangi fiterisasi dari sinar matahari sehingga sinar kandungan UV semakin pekat. Semakin banyaknya CO2 di atmosfer menyebabkan naiknya suhu permukaan bumi, akibatnya pulau – pulau es di kutub mencair dan permukaan air laut semakin tinggi. Rumah kaca yang memantulkan sinar matahari mengganggu sejumlah sinar matahari yang harusnya diserap bumi, juga sinr yang dipantulkan tersebut berpotensi mengganggu stabilitas atmosfer.

            Intinya, saya hendak menjelaskan bahwa aktivitas manusia terkait dengan alamnya disadari-tidak, sedikit-banyak, sebentar-lama kelamaan, mempengaruhi ’titik’ keseimbangan alam. Dan sebagaimana asumsi hukum alamiahnya diatas, bagaimanapun pergeseran yang terjadi, entah sebab proses alamiah atau karena tindakan manusia, alam akan selalu berusaha kembali menuju titik keseimbangannya.

 

Kepentingan alam vs kepentingan manusia

v     Mana yang lebih penting: Kepentingan manusia atau kepentingan alam?

v     Mana yang lebih mendasar: kekutan alam, atau kekuatan manusia dalam kehendaknya menguasai alam?

Jika seperti itu kategorinya, maka terdapat beberapa kemungkinan:

v     Jika kepentingan manusia dan kekuatan manusia dalam kehendaknya untuk menguasai alam adalah lebih penting dan mendasar, konsekuensinya, alam harus menuruti sejauh-jauh kehendak dan kepentingan manusia apapun itu, walaupun menggeser titik keseimbangan alam, sang alam harus tetap meladeni serta tetap tidak boleh mengganggu rutinitas kepentingan manusia.

v     Jika kepentingan alam dan kekuatan alam lebih penting dan mendasar, konsekuensinya, manusia walaupun berpotensi mengeksplorasi alam, tetap saja tidak boleh sampai overlapping dengan kepentingan alam. Dalam bahasa lain, manusia harus sadar dengan ’aturan-aturan alam’ yang tidak boleh di langgar manusia.

 

Dengan akal sehat yang paling dangkal pun kita dapat mencapai simpulan bahwa kepentingan alam jauh lebih penting dan lebih mendasar daripada kepentingan manusia. Tetapi realitanya, seiring eksplorasi manusia terhadap alam, tampaknya kepentingan manusia telah melampaui batas kepentingan alam. Dengan dengan kata lain, manusia telah mengganggu kepentingan alam; kecenderungan alam untuk menuju keseimbangannya. Akibatnya apa jika manusia mengganggu kepentingan alam? Tak ayal lagi, akibatnya adalah kepentingan manusia tergilas, tergerus, terkena dampak dari kepentingan alam selama proses menuju keseimbangan. Inilah yang dalam bahasa sehari-hari kita sebut bencana alam: dampak buruk yang dirasakan manusia akibat dari proses alam menuju keseimbangan alamiahnya:

v     Air mengalir ke tempat-tempat yang lebih rendah dan akhirnya ke laut. Jika manusia-manusia menempat-tinggali daerah yang akan dialiri air, maka manusia akan terkena dampak dari aliran air, apalagi bila debitnya jauh bertambah: biasa kita sebut bencana alam banjir.

v     Pada daerah yang tanahnya labil, seharusnya manusia-manusia yang tinggal diwilayah tersebut menyadari bahwa mereka hampir bisa di pastikan terkena dampak buruk dari pergeseran atau labilnya tanah:dalam bahasa sehari kita sebut bencana alam tanah longsor, bencana alam gempa bumi, dsb.

v     Api bila bertemu konduktor sangat potensial membesar kobarannya. Tapi bila api menggangu manusia dan kepentingannya, maka biasa kita sebut bencana alam kebakaran.

v     Sirkulasi cuaca dalam perbedaan tekanan ekstrem tertentu dapat membentuk badai. Jika terdapat manusia di daerah yang dilanda badai, maka biasanya kita menyebutnya bencana alam badai.

v     Cuaca peningkatan suhu iklim menyebabkan es kutub mencair, meningkatkan permukaan air laut dan perubahan iklim lainnya sebagai bentuk proses bumi menuju keseimbangannya. Jika ada manusia yang terkena dampak buruk dari perubahan iklim ini biasanya disebut korban bencana alam perubahan iklim.

Dan masih banyak lagi contoh lain yang mendeskripsikan dimana manusia telah melampaui batas-batas eksplorasi alam sehingga mengganggu stabilitas alam dan dampaknya kembali ke manusia.

Dalam batas-batas yang cukup primordial, bukankah bisa dikatakan bahwa manusia diciptakan dari alam? Bahan baku manusia berasal dari alam. Sehingga muncul tesis bahwa manusia adalah mikrokosmos yang mewakili penjelasan bahwa dalam tubuh manusia terkandung seluruh zat yang tersebar di jagad raya (Makrokosmos) dan bumi adalah Mother Earth seluruh makhluk yang hidup di planetnya.

Dalam pemahaman ontis semacam ini rasanya penggunaan istilah bencana alam dirasa kurang tepat karena menurut penulis, sejatinya alam tidak pernah bermaksud membuat bencana, apalagi mencelakai manusia, alam ’bergerak’ sesuai dengan hukum-hukum yang melingkupi alam itu sendiri. tetapi manusia yang ternyata ’nakal’ dengan kepentingannya melanggar hukum-hukum keseimbangan alam. Dan manusia kalah, atau terkena dampak buruknya. Dalam bahasa kelirumologi-nya Jaya Suprana, istilah ’bencana alam’ mungkin termasuk simbol kata yang memiliki kesalahan logis yang mendasar menyangkut makna dan fungsi kata.

Menggunakan bahasa yang agak metaforis, eksplorasi manusia yang kebablasan tersebut layaknya anak nakal yang kelewat batas akan aturan-aturan ibunya sehingga sang ibu marah, atau menegur.

 

Akhirnya, dari penjelasan diatas, saya jadi berfikir: agaknya, pendapat Zen perlu direvisi..hmm,


[1] Ronggowarsito: Putra Raden Tumenggung Sastronegoro, lahir Pada hari Senin Legi tanggal 10 Zulkaidah tahun Jawa 1728 atau tanggal 15 Maret 1802 Masehi kurang lebih jam 12.00 siang

[2] Joyoboyo: Salah satu karya agung Ronggowarsito dimana dari awal kejadian alam semesta hingga kiamat, seluruhnya dibagi menjadi enam jaman.


Catatan Surveyor I




Hari-hari ini, aku benar-benar menjadi salah satu pecandu Facebook (FB) yang sehat karena tiap hari,bangun tidur,langsung buka facebook padahal muka masih ngantook (lho..lho.. malah berkicau). Ya, begitulah, kadang sampai tak sadar kalau credit balance sudah habis hingga loading mode-nya enggak berhenti-berhenti petanda enggak bisa mengakses koneksi GPRS. Haha.. tetapi Alhamdulillah pagi tadi bisa mengakses FB lagi. Lewat HP.

Kutekan kursor ke bawah, dan otomatis kulihat beberapa status dan tautan berderet rapi di beranda, ada teman status teman SMP yang metal abis, ada adik kelas kuliahan yang upload foto lagi narsis sama selingkuhannya, ada announcement kuis ngawur berjudul “Umpatan apa yang paling cocok buat kamu?”, ada status cinta-cintaan, ada status keluhan-keluhan (yang salah tempat dan sasaran), ada, yang statusnya seperti puisi enggak jelas, serta ada juga status pelayanan (untuk tidak menyebutnya propaganda).

Huaaahhmm.. (bentar, tk nyruput kopi.. -slruurlph.. akh.. hrrrghh!-)

Untuk jenis status yang terakhir, di beranda-ku banyak tuh yahg kayak gitu. Sung! misalnya pagi ini nih, begini katanya :

”ungkapan Bangsat,’pateni’ ketidakjujuran menunjukkan cara berpolitik yang memundurkan peradaban…(banyak yang salah pilih);;2014 jangan salah pilih lagi. Jadilah pemilih yang cerdas”

Emangnya peradaban itu maju,mundur, meninggi, menurun, bergerak kesamping, melompat-lompat, meluas, mendalam, atau menciut? Ahh, sudahlah..
Nah, ku ‘paste’ persis seperti aslinya, sampai tanda ‘titik-koma’ tercetak dobel pun kubuat demikian. Ya, tapi.. males amat sih mau komen, lha wong 2014 masih lama kok. Apalagi 2012 besok konon katanya kiamat.. hehe tapi akhirnya ku kasih ‘jempol’ dah.. ya itung-itung yang nulis status tuh orang penting yang gatel, kemudian nyeberang dari kiri ke kanan.. Akh, gpp-lah. Gitu-gitu juga manusia.. sorry juga nih,enggak nyebut merek. Ntr malah terjerat UUITE, piye jal?

Emang sih, ga tak ksi komen.. tp mlh bikin ngelindur..
Uhm, kembali ke statusnya. Kalau mau di telisik, mau di kupas, mau ditafsirkan dengan kerangka teori manapun, dengan metode secanggih apa juga, bisa. Tapi untuk apa? Wong saya lagi ngelindur kok.

Akan tetapi dalam kondisi ‘tidur-tidur ayam’ ini, seakan-akan status itu memicu ingatan saya tentang perjalanan ke sebuah desa miskin di sepanjang teritorial pantura, jawa tengah -namun orang-orang dan bahasa yang di pakai ternyata diimpor dari jawa barat. Desa ini tertelak di tengah-tengah persawahan milik tuan-tuan tanah yang bukan penduduk desa itu. Sebut saja desa ‘Pakenton’ (atau apalah,sesuka anda).

Kepentingan saya dolan ke desa Pakenton adalah untuk keperluan survey menjelang Election Party membawa bendera sebuah lembaga survey terkemuka yang dipimpin ahli statistik lulusan luar negeri (keren enggak tuh?). Tp kemarin di tuduh aktivis LSM Bendera, kata mereka, lembaga ini menerima kucuran dana dari Bank Century (Century-Gate. Tapi sepertinya ga benar yak?).

Salah satu konsentrasi survey adalah untuk mengetahui kesiapan masyarakat menjelang pemilu. Ada beberapa ingatan yang mengalir pelan ke bantal tentang hal ini. Saya ingat ada yang penuh emosional mendukung partai ‘kambing hitam’ karena kemarin baru diberi stiker-nya oleh sang cucu. Benar-benar hanya stiker. Enggak ada yang lain. Ada juga simpatisannya pak Harto: “Mas,saya ini, hidup-mati,ikut pak harto,mas. Kalau enggak pak Harto saya enggak mau”. Okelah,saya bisa maklumi karena di desa ini enggak ada Koran. TV juga jarang. Baca Koran pagi-pagi sambil nge-teh dikira kompeni.

Itu tadi hanya kasus-kasus tertentu. Tetapi secara umum, hasil survey menunjukkan kalau masyarakat tidak mempunyai persiapan menjelang pesta nasional paling mahal. Padahal (waktu itu) pemilihan tinggal beberapa bulan lagi. Yang ada dipikiran penduduk desa Pakenton adalah: “besok makan apa?” masalah pemilihan umum,dipikir ketika hendak ke TPS dengan bekal bisik-bisik tetangga yang ternyata suksesor partai ‘moncong babi’ yang memang banyak ngepet di pedesaan seperti desa Pakenton. Apa yang dipilih para tetangga, apa yang dipilih sanak keluarga, itu yang dipilih. Padahal kelompok acuannya itu juga menunggu ndok blorok dari kabar angin kepetan babi. benar- benar mengamalkan sila ke -3, dan LuBer (langsung umum, bebas rahasia).

Yah, kira-kira begitulah desa Pakenton menyiapkan dirinya merayakan demokrasi-demokrasinan. Komplikasi lain yang seingat saya tidak tercatat hasil kuesioner adalah; rakyat memilih secara emosional (atau mungkin serampangan,ngawur,dsb) sesuai dengan tim sukses partai mana yang paling dekat dengannya. Dan itu baru di bahas ketika hari-H.
Sisi lainnya lagi, dari sisi surveyor, entah bagaimana interpretasi atas data statistik kuesioner itu nantinya, yang penting manipulasi atas celah-celah metodologi tersebut tidak menyalahi petunjuk pengisian, tidak mengurangi tingkat validitas, reliabillitas, dan yang paling penting tidak terkena spot-check.

Pengalaman lain di sebuah desa di perbatasan semarang-demak yang selalu sepi ketika siang dan angker kalau malam; yang HP kepala desa-nya selalu dibawa anaknya; yang kalau telfon ke rumah, diangkat oleh istrinya dengan nada marah-marah mengatakan “bapaknya tidak ada!”

Kita sebut saja desa ‘Nglebok’. Persiapan pemilu di desa Nglebok pun terjadi dengan instan, tetapi agak lebih canggih dari pada desa Pakenton. Disini yang dominan adalah partai ‘matahari ubanan’. Mereka bertransaksi dengan warga desa, untuk mencontreng partai caleg dan calon presiden yang diusung. Gantinya; pavingisasi jalan-jalan di sepanjang desa, dan pembangunan masjid desa (pembangunan masjidnya waktu itu masih pending, baru setengah jadi. mungkin akan diselesaikan setelah pemilu sambil melihat perolehan suara masyarakat desa Nglebok). Yang lebih canggih lagi, beberapa penduduk desa yag berpikir ‘progressif’, walaupun jalan-jalan desa telah di paving, mereka masih berani melelang ‘hak suara’ pada partai yang mau membeli dengan harga termahal. Nah,saya tidak ingat betul, apakah fenomena ini terungkap kuesioner yang hampir seluruhnya adalah pertanyaan tertutup.

Lebih canggih lagi, system ini ditangani beberapa warga (mungkin dengan musyawarah) ditunjuk sebagai negosiator pada partai-partai terkait. System seperti ini membuat warga desa Nglebok secara efektif dan efisien menentukan pilihannya pada saat pemilu. Jadi, kalau belum hari –H, yaa mikir kerjaan saja. Nanti pas hari-H, nyontrengnya sesuai dengan anjuran para Negosiator.. Hmmm.. mungkin systemnya lebih canggih lagi? saya tidak tahu.

Yang jelas, kesiapan responden yang disambangi surveyor jelas tidak ada. Bahkan ada pengangguran yang benci dengan pemilu karena menurut dia, pemilu bukanlah perjuangan aspirasi rakyat, tetapi, pemilu, dan partai-partai politiknya itu, tidak lebih dari sekedar tempat kerja, tempat cari duit bagi para eksponennya: kalau duitnya enggak kuat, aspirasinya enggak sampai. (entah siapa yang memberi pengertian/provokasi semacam itu pada pengangguran yang malang ini). Disamping itu, hampir sama dengan yang terjadi di desa Pakenton, di desa Nglebok ini juga ada simpatisan pak Harto, katanya:”Pada jamannya pak harto itu uenak mas, apa-apa murah walaupun itu uang negara hasil ngutang. Negara kere, atau apa.. biar. yang penting wong cilik seperti saya ini bisa menikmati harga murah, harga gabah tinggi. Selain itu, saya enggak peduli mas! tapi sekarang, apa-apa mahal, cari kerja susah, beli pupuk mahal, gabah dijual murah..”

Kira-kira seperti inilah yang mendasari masyarakat desa Nglebok untuk mengkomersiilkan dan melelang suara mereka pada partai-partai ‘haus darah’.

Dari desa Pakenton ke desa Nglebok, penulis memang menjumpai dan mewawancarai masyarakat akar rumput, bahkan secara pendidikan (formal), mereka juga akar rumput, tetapi dari sedikit itulah, penulis mencoba meraba-raba bagaimana masyarakat akar rumput menyikapi dan memperlakukan perayaan pesta demokrasi.

Eh, ada pengalaman lain. Kasus kali ini melibatkan penduduk yng secara pendidikan bukanlah termasuk grasroot. Mahasiswi, gitu loh. Singkat cerita, penulis dulu dekat dengan wanita ini. Hingga pada saat hari pemilihan, penulis mendapat SMS seperti ini:
“Mas, milih apa?”,
kujawab “aku atheis”.
Kemudian dibalas “atheis? lho kok enggak nyontreng?”
kutanggapi “enggak ada yang sreg”
dibalas “mas jahat”
“lho,kok?” balasku bingung
kemudian, tanggapannya mengagetkan “Mas Jahat!, kalau enggak nyontreng berarti mas enggak sayang sama aku!”
Saya jadi bingung; “apa hubungannya tidak mencontreng dengan jahat?”; “apa hubungannya tidak mencontreng dengan ‘sayang’”?
Nalar apa yang sebaiknya kupakai untuk memahami kalimat tersebut?
Oooohh.. akhirnya saya ingat kalau sahabat dekatnya adalah tim sukses dari partai ‘pohon dedemit’, juga tim sukses dari caleg partai ‘gurita narsis’ maka apapun yang di contrengnya pun tidak lepas karena kedekatan emosional dengan sahabatnya, sehingga kampanye bisa dilakukan dengan pendekatan personal. Dan mengikuti alur ini, akhirnya memilih partai, caleg, ataupun capres pun emosional. Ternyata, sekaliber mahasiswa, jika tidak mendapat pendidikan politik yang memadai pun, tetap sama saja dengan mereka yang secara pendidikan adalah grassroot.Cumonalism lebih kuat dari pada individual interest. Hmmm..

Tuh,khan ngelindur kemana-mana..

Lha terus, apa hubungannya dengan status FB yang diatas tadi?
Sederhana saja, status itu tak anggap semacam pendidikan politik; meningkatkan kesadaran politik rakyat (rakyat:yang punya FB, berteman dengan pembuat status,dan lagi OnLine) supaya 2014 tidak salah pilih ‘lagi’ partai calon legistalif ataupun calon presiden.

Bah, tetapi boro-boro bro, lama amat.. 2014. Masih nunggu 4 tahun. Lagian yang dimaksud Seperti kasus di desa Pakenton dan Nglebok, mana sempat mereka FBnan? Lha wong hari ini “mikirnya besok mau makan apa?” Bukan mikir 2014! Apalagi mikir menu makanan hari ini, dihubungkan dengan kesalahan memilih partai dan presiden? Cuma satu atau dua yang mikir seperti itu.

Bah,Kernet naik ojek;kagak nyampek jek……

Sepertinya jadwal sehari-hari mayoritas masyarakat negeri demokratis ini terlalu penuh sesak bila digunakan untukn berfikir 4 tahun lagi nyontreng apa? Kecuali secuil oknum masyarakat yang memang political interest-nya tinggi.

Duhh.. kopinya habis..


www.formspring.me/Hariez

Hiperrealita Hajjah (sebuah tinjauan psikologi)




Membuka – buka dan membaca lagi, apa yang tertuang di buku harian memang menyenangkan, lucu, getir, ataupun kagum dengan kenaifan diri kita sendiri. Tulisan dibawah ini sempat penulis sarikan di buku harian beberapa waktu lalu. Nah, karena stres dan shok disebabkan dosbing yang tidak bisa membimbing selama seminggu (2-8Feb) sementara deadline untuk wisuda april semakin dekat, maka untuk melepaskan stressor ini penulis menyublimasikannya dengan menulis artikel.

Ini cerita manakala penulis berinteraksi dengan keluarga seorang hajjah. Terdiri dari hajjah itu sendiri dan seorang anak tiri (Bunga:nama samaran) perempuan berusia dua puluh tahun. Cerita ini ada karena awalnya penulis sebelumnya bermaksud melakukan pendekatan (ta’arruf??) dengan putri tirinya itu. Tetapi cerita yang terjadi sungguh menarik. Disini penulis ingin mengupas fenomena seorang hajjah yang penulis ragukan status hajjah dan kemabrurannya.


:>
Seperti halnya kerja persona yang tampak selaras dan menyenangkan dengan kondisi sosial, pertama penulis diterima dengan sangat ramah oleh sang hajjah (selanjutnya penulis gunakan nama: Bunda). Terjadilah tanya-jawab dan interaksi yang membuat penulis dekat tidak hanya dengan Bunga, tetapi juga dengan Bunda. Seiring berjalannya waktu, penulis merasa ada yang agak berbeda dengan Bunda, setelah penulis perhatikan, penulis jarang menjumpai buku – buku, pun yang berbau agama. Hanya sedikit. Perbincangan penulis dengan Bunda pun tidak pernah menyentuh relung – relung agama secara mendalam, entah itu mengenai syariat, tarbiyah, sejarah islam, atau semacamnya. Mentok – mentoknya ya berulang – ulang cerita mengenai pengalamannya ke tanah suci Mekkah dan dampak sosial setelah Bunda melaksanakan ibadah haji (suasana di sekitar ka’bah dan hajar aswat, pulang membawa banyak oleh - oleh dibagi – bagi untuk sekampung, kepuasan setelah ibadah haji, dll), menjalankan ibadah rukun islam, sehingga penulis mempunyai hipotesis banyak keyakinan agamanya didasarkan pada harapan dan ketakutan akan: pahala-dosa serta surga-neraka. Menurut penulis, ini semacam pandangan agama yang tradisional-konservatif, tidak mendalam, dan cenderung mistik.

Dari keraguan itu, penulis tertarik untuk menyelidiki dan mengupas kualitas hajjah serta kemabrurannya. Untuk itu penulis mencari informasi dari beberapa tetangga Bunda. Penulis bertanya ikhwal kehajjahan Bunda pada teman penulis yang juga tetangganya, katakanlah namanya Kris. Ternyata, Kris pun sempat mempertanyakan status kehajjahan tetangganya itu. Dahulu sebelum Bunda berangkat ibadah haji, Kris mengenalnya sebagai wanita yang mandiri, tidak menikah, cenderung tertutup dan jarang bersosialisasi dengan tetangga, tidak mau disalahkan, dan berkeprbadian paradoks bipolar (kadang – kadang sangat baik, tetapi bersamaan dengan itu, bisa juga berubah sebaliknya). Intinya, Bunda baik jika seseorang, sesuatu atau suasana tertentu sesuai dengan kehendaknya. Kris pernah menanyakan juga ikhwal kehajjahan tersebut pada ayahnya (ketua RT di lingkungan situ), dan ayahnya menjawab berikut (mengikuti gaya penuturan Kris) “yo ngono kuwi…..” suatu jawaban mengambang yang penulis tafsirkan cenderung negatif. Masih informasi dari Kris, ia seakan - akan tidak percaya jika tetangganya itu hendak menunaikan ibadah haji. Ada suatu harapan dalam hati Kris, semoga sepulang dari tanah suci ada perbedaan dalam diri Bunda. Tetapi tampaknya harapan Kris itu tinggal harapan karena tidak ada perubahan yang signifikan dari Bunda.

Orang kedua yang penulis ambil informasinya adalah Bunga, anak tiri Bunda. Bunga -yang kuliah di sebuat STAI (Sekolah Tinggi Agama Islam) jurusan Tarbiyah di sebuah kota sepanjang pantura- menyebutkan, adalah fakta bahwa ibunya hajjah karena telah melaksanakan ibadah ke tanah suci Mekkah. Tetapi sebagai hajjah, tasawuf iBu tirinya tersebut tidak lebih baik dari orang – orang yang belum pernah ibadah haji.

Berawal dari keragu-raguan tersebut, penulis semakin menarik untuk mengupas fenomena ini. Informasi yang lebih mendalam penulis dapatkan dari Bunga, anak tirinya. Bunga berpendapat bahwa iBundanya lebih dan sangat mementingkan status sosialnya daripada substansi hajjah, bahkan lebih penting daripada anak tirinya sekalipun. Penulis akan mengupas hal ini lebih banyak dibawah.

Sejarah menempatkan seseorang dengan status haji/hajjah pada posisi yang dihormati, ini aksioma, dan ini yang terjadi pada umat islam dalam konteks budaya masyarakat jawa. Sebuah perpaduan yang indah sejak sejarah walisongo, dimana citra haji/hajjah begitu dihormati sebagai seorang yang taat dan kuat secara agama, bijaksana, islamnya sempurna, memberikan energi positif pada lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Begitu kuat citra yang melekat pada status haji/hajjah sehingga penunaian ibadah haji dari indonesia dari tahun ke tahun selalu ramai.

Dalam konteks Bunda, penulis menggunakan pendekatan deduktif dengan premis bahwa; disadari atau tidak, diakui atau tidak, langkah Bunda menunaikan ibadah haji lebih berat pada usaha untuk medongkrak status sosialnya daripada sebagai ibadah untuk menyempurnakan keislamannya. Bunda adalah wanita yang tidak menikah, tinggal sendirian, dalam gelombang budaya yang mementingkan citra – citra, tentu sebuah problematika dengan beban yang tidak ringan. Belum lagi persepsi masyarakat mengenai masalalu Bunda yang kelam dan sejumlah priblematika lainnya, tentu saja hal ini menekan eksistensi dan memperburuk citranya.

Sebagai seorang muslimin (minimal KTPnya tertulis islam), sebatang kara, dan mulai berumur, tentunya tidak ada sandaran hati, dan tempat mengadu selain kepada Allah SWT. Nah, dalam ketidakberdayaannya ini Bunda menunaikan ibadah haji. Haji, idealnya memang untuk menyempurnakan rukun sebagai muslim dan muslimin. Tetapi tentu saja tidak bisa dipukul rata bahwa semua haji/hajjah mempunyai motivasi yang sama semacam itu. Banyak motivasi lainnya. Dalam konteks Bunda, kepergiannya ke tanah suci adalah untuk mengadukan ketidakberdayaan eksistensinya pada apa yang ia pahami sebagai Allah SWT melalui simbol – simbol Ka’bah, Hajar Aswat, wukuf, lempar jumrah dll.

Sebuah ritual pemujaan terhadap simbol – simbol “petanda” agama bisa juga melupakan”penanda”nya, atau biasa disebut fetishisme agama (Religion fethisism). Kepuasan pengidap fetishisme agama ini akan terasa setelah dia berhasil memuja bahkan memiliki simbol – simbol agama. Dalam konteks Bunda, sepulang dari tanah suci dan menyandang gelar hajjah, hilanglah suatu perasaan inferior dan siap menyandang status baru dalam masyarakat (tentunya lebih terhormat:hajjah). Suatu eksistensi dengan superioritas simbol budaya+keagamaan yang mampu mengubah struktur disekitarnya.

Demikian, status hajjah menjadi ideologi bagi Bunda. Ideologi ini pula yang menjadi modal sosial untuk mendongkrak keberadaannya. Berbagai usaha dilakukan Bunda asalkan selaras dengan citranya sebagai hajjah, dan berbagai upaya yang akan merusak nama baik Bunda sebagai hajjah akan dimurkainya. Dari pengalaman penulis berinteraksi dengan Bunda, dari banyak statemen yang dikemukakannya, terasa sekali penekanannya sebagai seorang hajjah. Selalu ada frase “…Saya ini kan hajjah, mas…”.dan seterusnya dan seterusnya…….. Juga penekanan kesenangan manakala ada kolega dan tetangga yang datang bertamu dengan mengucapkan “..nikmatnya…nikmatnya….” sebuah luapan kesenangan dari seorang yang hidup sendirian dan ingin keberadaannya diakui. Atau mungkin juga ketakterhubungan bunda secara sexual terbayarkan dengan persetubuhan antara sublimasi dan keinginan untuk mengAda dalam bingkai citra hajjah.

Dalam kehidupan keluarga, berdua dengan Bunga, putri tirinya, otoritas Bunda terasa begitu kuat dan berlebihan. Misalnya, beliau malu kalau Bunga dekat dengan laki – laki tanpa ada hubungan yang jelas karena ini akan merugikan nama baiknya. Bertolak dari itu pula, Bunga yang -secara personal- sebelumnya tidak pernah dekat (kurang bergaul/berinteraksi) dengan laki – laki namun kemudian berpacaran dengan kumbang mendapat perhatian kelewat serius dari Bunda. Kumbang seorang laki – laki yang sudah cukup umur, sarjana, sudah bekerja, dan beriman. Mungkin kumbang adalah karakter dengan modal yang disukai Bunda untuk mendampingi Bunga. Karena itu, daripada persepsi masyarakat menjadi negatif, dengan segera (untuk tidak mengatakan terburu – buru dan gegabah) kumbang dan keluarganya diminta Bunda untuk melamar Bunga. Bunga yang sebenarnya tidak menginginkan perjodohannya secepat itu -karena dia baru setahun tahun kuliah dan masih terlalu muda- tak kuasa menolak karena otoritas ibunya yang terlalu kuat. Maka, Bunga pun menerima lamaran itu.

Contoh lain, obsesi superioritas Bunda tampak pada keptidakpercayaan pada anak tirinya dengan menekan Bunga untuk kuliah di Batang saja. Itupun dengan mengambil jurusan yang dikehendaki Bunda:Tarbiyah. Sebuah jurusan yang tidak diminati Bunga, namun dipaksakan (kata Bunga:daripada tidak kuliah) karena ini akan memperkuat cintranya sebagai keluarga hajjah. Pola asuh yang otoriter ini tampak pada pembatasan kebebasan Bunga untuk bersosialisasi, pembatasan Bunga untuk berinteraksi dengan laki – laki yang bukan muhrimnya, pembatasan Bunga untuk menilai dan mengambil keputusan tentang seseorang, sesuatu dan suasana tertentu, serta banyak pembatasan lainnya.

Pembatasan – pembatasan ini tentu saja tidak menguntungkan perkembangan Bunga. Dalam ketidak berdayaannya diasuh ibu tiri, Bunga tumbuh menjadi anak yang penurut (atau terpaksa menuruti?), lemah dalam logika, sulit untuk berpikir panjang dan berpikir serius, susah mengendalikan emosi (gampang marah dan cengeng), bahkan ada simptom distress pada Bunga yang mengarah pada tindakan bunuh diri bila mendapat tekanan luar biasa. Beberapa kalimat yang sempat Bunga ucapkan sangat mengarah pada suatu keadaan depresif, tidak berdaya, dan agresif pada diri sendiri. Berikut adalah beberapa diantaranya “..Biarin! mungkin ini sms terakhirku.. jika setelah ini aku tidak sms lagi berarti aku sudah mati ketabrak [truk] tronton..”. Kalimat lainnya “..enak sekali punya oranag tua kandung..” dan, “..memang ada Bunda..tetapi rasanya pasti beda..enak sekali punya orang tua kandung” juga kalimat ini “Ibu kalau muncul egoisnya, tidak memperhatikan aku..padahal aku masih sakit, tetapi disuruh mengantarnya ke pasar..”. Dari beberapa kalimat di atas, ada kecenderungan Bunga untuk memberontak (agresif eksternal), tetapi adanya rasa ketidakberdayaan menyebabkan Bunga lebih banyak nrimo dan mengarahkan agresi pada diri sendiri (agresi internal) seperti kecenderungan bunuh diri itu. Hal ini diperparah dengan sikap dua kakak kandung Bunga yang tidak mempedulikannya (Bunga punya dua kakak, semuanya sudah berkeluarga, salah satu ada di sebuah kabupaten di jawa tengah bagian pantura dan satunya lagi ada di sebuah kota besar di sebelah barat Jawa).

Kembali ke Bunda. Sampai disini seakan muncul pola - pola dimana Bunga dijadikan alat untuk memenuhi obsesi Bunda, terlepas bagaimana pemahaman Bunda akan kondisi kejiwaan pitri tirinya tersebut. Pada saat murka, tidak jarang Bunda mengata - ngatai anak tirinya tersebut (maaf) Lonte.Itu yang paling ringan, perkataan lain yang lebih agresif pun akan keluar dari mulutnya. Silahkan pikir sendiri kata- kata apa saja yang lebih parah dari (maaf) Lonte. Sebuah teror psikis yang luar biasa traumatic bagi pertumbuhan anak perempuan sebatang kara dan tak berdaya seperti Bunga.

Kalimat yang bisa mewakili, mungkin seperti ini "Bunga sudah mati. Yang ada sekarang tinggal boneka perempuan yang harus menuruti ambisi - ambisi Ibu tirinya."
Kasihan juga Bunga, Ahh... Bunga...

hariez_zona@yahoo.com
pernah di post di komunitasembunpagi.blogspot.com

Masyarakat Phlegmatic (Phlegmatisasi)





Tipologi Kepribadian Hippocrates

Konon, dalam studi kepribadian klasik tercatat, Hippocrates(1) menggolongkan kepribadian manusia ke dalam empat kepribadian saja, yaitu Melankolic (sempurna), Phlegmatic (tenang/damai), Sanguinic (populer)dan Korelic (kuat). Masing – masing kepribadian memiliki ciri khasnya masing – masing. 

Melankolic
, Karena dia seorang yang cenderung ”sempurna” maka biasanya dia dikenal sebagai seorang idealis, kurang suka berkompromi, kadang cenderung introvert, Suka segala sesuatu berjalan rapih, teratur, karena itu kadang – kadang terlihat agak kaku. Mempunyai impian yang besar/tinggi. Dalam tingkat kecerdasan yang sama dengan tipe kepribadian lain, sosok melankolis cenderung lebih terlihat unggul karena kecenderungannya akan sesuatu hal yang ideal.

Phlegmatic, Orang dengan kecenderungan ini, perilaku aktualnya adalah tenang, mengalir, menghindari/mengakhiri konflik, menghindari suasana yang membuat tidak nyaman, mendamaikan sesuatu yang berseteru, dan konon damai adalah tujuan tertinggi tipe kepribadian ini.

Sanguinic, Orang dengan kecenderungan sanguinis ini mempunyai perilaku yang menarik di mata orang lain. Tipe kepribadian ini memperlihatkan pribadi yang disukai banyak orang: ceria, riang, suka berinteraksi dengan orang lain, menghidupkan suasana, bersemangat, suka dipuji, dan ekspresif.

Korelic, adalah tipe kepribadian yang meledak – ledak, kuat, mempunyai kemauan yang keras, sulit dikendalikan, kadang terlihat otoriter, kurang suka basa – basi.



Empat tipologi kepribadian dan kombinasi - kombinasinya ini diyakini Hippocrates mampu menafsirkan pola – pola kepribadian seseorang. Misal, jika seseorang mempunyai kecenderungan kuat pada Phlegmatis, maka tiga kecenderungan yang lain tidak sekuat kecenderungan pada phlegmatis, tetapi bukan berarti tidak ada tiga kecenderungan yang lain itu.



Masyarakat Phlegmatis


Kepribadian adalah suatu bentuk kesatuan jiwa yang di bawahnya terdapat berbagai subsistem yang mengkonstuknya (misal das Es, das Ich, dan das Ueber Ich-nya Freud), Maka pola – pola/kecenderungan kepribadian yang nampak adalah produk dari suatu komposisi yang menggambarkan dinamika susbsistem kepribadian tersebut. Ini jika kepribadian ditujukan untuk menafsirkan gejala kejiwaan seseorang.

Apabila konsep ini dielaborasi dengan mengganti objek ”individu” dengan ”masyarakat” (selanjutnya tanpa tanda petik <”>), maka akan diperoleh suatu tafsiran kepribadian, yaitu kepribadian masyarakat. Kepribadian masyarakat dapat diartikan sebagai deskripsi kejiwaan masyarakat yang pola – polanya terkonstruk oleh dinamika subsistem kepribadian dengan komposisi tertentu yang menunjukkan ciri khas masyarakat tersebut.

Masyarakat Phlegmatis dapat diartikan sebagai gambaran dari suatu masyarakat dengan karakter tenang, mengalir, memilih menghindari/mengakhiri konflik, menghindari suasana yang membuat tidak nyaman, mendamaikan sesuatu yang berseteru, dan cinta damai/aman. Namun, karakter ini bukan penulis pakai untuk menggambarkan kepribadian masyarakat yang terkonstruk sedemikian rupa hingga berkarakter phlegmatis. Tetapi penulis mencoba mengambarkan proses phlegmatisasi masyarakat sebagai suatu proses yang membentuk, bahkan (disadari atau tidak) memaksa masyarakat sehingga tampak phlegmatis. Berikut adalah beberapa hal yang penulis curigai mempuyai peran besar dalam membentuk phlegmatisasi masyarakat



Konsep masyarakat positif

Konsep masyarakat positif ini merujuk pada pemikiran Auguste Comte(2). Ciri masyarakat positif adalah mereka telah mengganti gaya berpikir spekulatif dengan gaya berpikir rasional empiris. Logika ini didesakkan pada seluruh sendi kehidupan dengan semana – mena. Konsep ini akan menghasilkan pengetahuan yang instrumentalis. Masyarakat/individu dibekali dengan metode sains yang memungkinkan memiliki penguasaan alam dan lingkungan untuk merencanakan masa depan yang lebih baik. Dengan keadaan semacam ini, agama harus bersedia menyerahkan diri hegemoninya -seperti pasukan yang kalah perang- pada ilmu pengetahuan empiris. Tempat – tempat peribadatan agama yang dahulu menjadi jantung peradaban manusia, kini, pada masa masyarakat positif telah digantikan Bank, Universitas, dan Industrialisasi. Dengan konstruk semacam itu, maka segala hal yang utama adalah yang dapat diukur, dikendalikan, bahkan dimanipulasi. Hal – hal yang bersifat materiil dan pragmatis (manfaatnya dengan cepat dapat dirasakan) menjadi hal prioritas. Sedangkan hal – hal yang sifatnya spekulatif dan tidak dapat diukur (mistis, agama, bahkan, Tuhan) akhirnya terpinggirkan.

Ciri masyarakat positif berikutnya adalah kehilangan makna. Revolusi di bidang sains (iptek), perubahan sistem kenegaraan, transportasi, teknologi informasi, komunikasi, rekayasa biologis, bidang produksi, dll semakin memudahkan hidup masnusia. Seakan – akan segala kebutuhan manusia dapat dipenuhi dengan landasan teknologi dan ilmu pengetahuan. Hal ini terjadi berlarut – larut pada masyarakat positif, pada zaman modern ini. Segala cita – cita diwujudkan secara instrumentalis, hingga pada saatnya muncullah imagi tentang robot. Penulis mengartikan robot adalah lambang supremasi positivistik, bahwa setiap “inci” dari manusia dapat diukur dan kemudian dibuat replikanya dalam bentuk robot. Tetapi bersamaan dengan itu, robot adalah lambang kegagalan manusia dalam memanusiakan dirinya, lambang kegagalan manusia dalam usahanya mencari makna. Karena itulah sains -bagi masyarakat positif- sebagai sandaran utama telah gagal dalam memecahkan berbagai permasalahan. Gagal dalam menjawab pertanyaan – pertanyaan manusia dalam krisis makna, krisis spiritual yang mendera. Dengan sains manusia dapat menciptakan apa saja sejauh itu dapat diukur, dengan sains pula manusia dapat kaya raya, berlimpah materi, tetapi bersamaan dengan itu, manusia dan masyarakat positif mengalami krisis tentang kebermaknaan, dahaga spitirual yang berlarut – larut.

Carl Gustav Jung(3), bercerita bahwa kebanyakan pasiennya adalah berasal dari masyarakat dengan ekonomi kelas menengah ke atas dengan usia 30 tahun – 45 tahun. Tentu saja secara pendidikan adalah terpelajar, kehidupan mereka telah mapan, bahkan konon sebagian adalah golongan masyarakat high-class. Tetapi dari pasien – pasien tersebut Jung menemukan persamaan bahwa keluhan – keluhan yang mereka bawa tidak lain tidak bukan selalu berhubungan dengan basic value, filsafat hidup, tentang kebermaknaan; atau dengan kata kata lain mereka mengalami krisis spiritual. Masyarakat positif bergelimang kemakmuran materi dan menderita dahaga spiritual yang akut. Hal ini, antara lain disebabkan karena sumber keyakinan, makna, dan spirit hidup hanya dimiliki oleh agama dan kepercayaan; bukan sains.

Sementara sains telah ”disucikan” dari pengaruh nilai – nilai agama dan dijadikan sandaran peradaban, agama dan kepercayaan itu sendiri telah dipinggirkan, karena tidak terukur dan tidak nyata/secara langsung dapat dirasakan kebermanfatannya (tidak masuk dalam prinsip – prinsip pragmatis). Dengan demikian masyarakat positif, dengan karakternya ini, membutuhkan basic value, filsafat hidup, kebermaknaan, spiritualisme yang sifatnya pragmatis: motivasi. Akhirnya Phlegmatisasi masyarakat menemukan bentuknya dengan menghindari perasaan kurang nyaman karena krisis makna dengan solusi berupa motivasi – motivasi sebagai penambalnya. Tidak peduli dari mana motivasi tersebut, asal (paling tidak) individu – individu dalam masyarakat positif tersebut merasa damai.



Kebijakan kekuasaan

Erich Fromm4 pernah berbaik hati dengan berpesan bahwa untuk menjadi pribadi yang sehat dapat dilakukan dengan mencapai kebebasannya walau betapapun sulitnya, proses dan perjuangan mencapai kebebasan tanpa henti adalah suatu ciri pribadi yang sehat. Hal ini tampaknya telah dipahami oleh para pemangku kebijakan (Pemerintah) sehingga sebisa mungkin mereka menghindari kebijakan yang tampak otoriter. Tetapi bagaimanapun, sifat kekuasaan adalah cenderung memembuat segala sesuatunya teratur, rapi, dan sistematis (setidaknya, seperti yang diinginkan kekuasaan). Maka, ketika pemerintah menetapkan suatu kebijakan yang tampaknya membebaskan, sesungguhnya kebijakan tersebut tetaplah otoriter. Perbedaannya, mungkin ada pada keluasan, kenyamanan dan kelenturan ruang yang ditawarkan kebijakan tersebut. Maka, dari sini tampak kesalahan dalam mengartikulasikan kata ”bebas” dan ”aman”.

Jika Bebas diartikan keadaan tanpa ada determinasi, maka Aman diartikan sebagai keadaan nyaman dalam determinasi. Dan pemerintah tampaknya lebih condong pada yang kedua. Jadi, artikulasi bebas menurut pemerintah tidak lain tidak bukan adalah membuat nyaman masyarakat dalam berbagai determinasi yang dibuat pemerintah itu sendiri. Dari sini, secara tidak langsung pemerintah berpesan; jadilah waga negara yang aman, karena (secara tidak langsung pula) bebas belum tentu aman, bahkan dari otoritas pemerintah itu sendiri. Berarti, dalam kebijakan semacam inilah, pemerintah menghendaki masyarakat untuk berperilaku phlegmatis.

Kemerosotan kualitas hidup

Konstruksi masyarakat phlegmatis semakin lengkap dengan adanya alienasi5. Biaya hidup semakin hari semakin mahal tanpa diikuti pendapatan yang semakin meningkat. Dalam hal ini sistem ekonomi dan kebijakan pemerintah turut memegang peran penting. Ketika dalam hal ekonomi masyarakat golongan atas semakin kaya, masyarakat golongan bawah semakin miskin, dan masyarakat golongan tengah semakin tertekan dan terpolar (ke atas/bawah).

Penakanannya disini adalah pada masyarakat dalam strata ekonomi menengah ke bawah.

Masyarakat tidak bertindak macem – macem karena mereka harus bekerja, bekerja, dan bekerja apa saja untuk memenuhi kebutuhan mereka. Yang penting bisa hidup aman dan nyaman. Kualitas hidup golongan menengah ke bawah semakin merosot, orientasi pada kebutuhan – kebutuhan dasar (makan-minum, sex, istirahat, bernafas, dll) dan kebutuhan keamanan (fisik maupun psikis) telah memaksa golongan masyarakat ini untuk melakukan apa saja. Asal kebutuhan tersebut terpenuhi.

Dalam paradigma Maslow6, sekarang, setiap kebutuhan terasa semakin tinggi dan mahal untuk dijangkau. Kebutuhan merosot hingga pada kebutuhan untuk keamanan dan kebutuhan untuk bertahan hidup (kebutuhan dasar). Sedangkan kebutuhan akan cinta dan saling memiliki, kebutuhan akan esteem, bahkan aktualisasi potensi diri dipraktikkan sebagai ungkapan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan keamanan.

Dengan kata lain, kebutuhan – kebutuhan dasar dan kebutuhan akan keamanan menjadi lebih tinggi dan mahal sehingga kebutuhan – kebutuhan lain menjadi subsider bagi tercapainya kebutuhan – kebutuhan ini.



Masyarakat phlegmatis, yang cederung mengalir, tenang, teduh, tidak suka cari masalah, suka damai dan mendamaikan adalah gambaran masyarakat ideal. Mungkin, ini semacam seragam yang dikehendaki penguasa dalam mengatur rakyatnya. Dan, tentu saja keadaan ini menimbulkan banyak implikasi..



Wallahu a’lam bissshowab..









1 Hippocrates (460-377 SM), pemikir yunani klasik yang juga mendapat sebutan “bapak kedokteran”

2 August Comte (1798-1857 M): Pemikir asal Perancis, dikenal sebagai “bapak pemikir Positivisme” yang kemudian berkembang sebagai pola pikir masyarakat ilmiah pada umumnya.

3 Carl Gustav Jung (1875-1961): seorang pakar Psikoanalitic dari Swiss. Konsep Jung yang terkenal dan kontroversial adalah tentang collective unconsciousness, dimana ketidaksadaran ini adalah gudangnya puncak – puncak potensi manusia.

4 Erich Fromm (1900-1980): Salah satu Tokoh neoFreudian yang juga seorang Marxis. Fromm mencoba mengawinkan pandangan Freud dan Marx tentang manusia.

5 Teori Alienasi (Karl Marx): Pemindahan hak milik kepada orang lain; Pengambilalihan hasil kerja (upah/gaji) para pekerja oleh para pemilik alat – alat produksi, sehingga gaji yang diterima pekerja tidak sesuai dengan kerja yang dilakukan.

6 Abraham Maslow (1908-1970): Pemikir Psikologi Mazhab III (Humanis). Teori hierarky kebutuhan Maslow an sich adalah upaya manusia mencapai kebutuhan – kebutuhannya dari kebutuhan yang terendah (dasar) hingga yang tertinggi. Dari yang terendah: 1)Kebutuhan fisiologis. 2) Kebutuhan rasa aman. 3) Kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki-dimiliki. 4) Kebutuhan Harga diri. 5) Kebutuhan Aktualisasi diri.

Dalam perkembangannya, teori ini mengalami perubahan bahwasannya Aktualisasi diri tidak selalu berada diatas dan kebutuhan – kebutuhan lain tidak selalu berada di urutannya, tetapi kontekstual. Bahkan dalam tahun – tahu terakhirnya, Maslow memodifikasi teori ini, dimana kebutuhan tertinggi bukanlah Aktualisasi diri, tetapi diatasnya ada kebutuhan akan spiritualisme; kebutuhan akan keyakinan terhadap dunia transenden.



hariez_zona@yahoo.com

mahasiwa Psikologi

Guyonan Sapi!












Socialisme :

Kau punya dua sapi, kau berikan satu untuk tetanggamu

Komunisme :
Kau punya dua sapi, negara mengambil alih kedua – duanya dan memberimu dua kaleng susu.

Facisme :
Kau punya dua sapi, negara mengambil alih keduanya dan menjual susu kepadamu.

Nazisme :
Kau punya dua sapi, negara mengambil alih keduanya dan menembakmu.

Beureucratism :
Kau punya dua sapi, negara mengaambilnya, yang satu ditembak dan yang satu diperah susunya terus dibuang.

Surrealism :
Kau punya dua jerapah, pemerintah memintamu untuk kursus piano dan sepak bola.

An American Corporation :
Kau punya dua sapi, kau jual satu, yang satunya kau paksa untuk memproduksi susu sebanyak empat sapi. Kemudian kau sewa konsultan untuk mengidentifikasi mengapa sapimu itu mati.

The Cak Kholil Corporation :
Kau punya dua sapi, Kau cincang kedua – duanya.

A Germain Corporation :
Kau punya dua sapi, kau merekayasa mereka supaya dapat hidup lebih dari 100 tahun, makan cukup sekali sebulan, dan mereka bisa saling memerah susu sendiri.

An Italian Corporation :
Kau punya dua sapi, yang satu mili Silvio Berlusconi dan yang satunya milik Masimo Morrati. Mereka kau latih main bola agar dapat menang melawan kesebelasan gajah dari thailand.

A Chinesse Corporation :
Kau punya dua sapi, kau kerjakan 300 orang untuk memerah susunya dan menyatakan tidak ada pengangguran serta nilai produksi susu tinggi. Kau menangkap wartawan yang melaporkan kenyataannya.

Korean Corporation :

Kau punya peternakan sapi yang sangat besar, di atas proyek nuklirmu.

An Iran Corporation :
Kau punya 2000 pasang sapi, kemudian kau pakaikan cadar pada yang betina.

British Corporation :
Kau punya dua sapi, dua – duanya sapi gila.

An Iraq Corporation :
Semua orang berpikir kau punya banyak sapi, kau bilang pada mereka hanya mempunyai satu sapi. Tak ada yang percaya, mereka mengebom daerahmu dan menginvasi negaramu. Kini kau tak punya sapi satupun, tetapi setidaknya sekarang kau adalah bagian dari “demokrasi”.

An Argentine Corporation :

Kau punya lima pasang sapi, kemudian kau melatihnya tango dance.

An Indian Corporation :
Kau punya dua sapi, kau sembah mereka.

Indonesian Corporation :
Kau punya dua sapi, dua – duanya curian, lalu kau jual. Uang dari hasil penjualan tersebut kau simpan pada account non-budgeter yang tak jelas. Kemudian kaugunakan beberapa untuk membiayai partaimu. Tapi sebagian kau simpan untuk keluarga besar, anak dan cucumu.

Malaysian Corporation :

Kau punya dua sapi, dua – duanya kau curi dari Indonesia.


Hariez,
Pernah di post pada komunitasembunpagi.blogspot.com

Motivator & Humanity




















Siapa yang tidak kenal Andrie Wongso?

Siapa tidak kenal John C. Maxwell?


Mereka adalah beberapa dari tokoh – tokoh motivasi papan atas nasional bahkan internasional. Tugas mereka (antara lain), dengan kapasitas intelektual yang dimiliki, memandang gap yang ada pada relita dan system untuk kemudian memotivasi, memompa sumber daya manusia (SDM) agar mampu berfungsi optimal. Kata – kata seperti ”Siap..”, ”Sukses..”, ”Luar biasa..”, ”berhasil..”, ”Semangat..” dikemas menjadi sesuatu yang istimewa untuk menyadarkan potensi setiap orang. Sungguh profesi yang sangat mulia, bermanfaat bagi banyak orang dan institusi. Mungkin juga menjadi motivator tidak hanya sekedar profesi, tetapi menuntut suatu bakat yang berakar dari berbagai soft dan hard skill. Tak ayal pada konteks kekinian bisnis motivasi telah menjadi lahan kerja prospektif. Hampir setiap hari kita dijumpai para motivator amatir yang belum lulus kuliah S1, hingga motivator yang kelas wahid dengan reputasi internasional melalui hasil karya atau bahkan orangnya.


Jika memperhatikan momentum zaman, motivator memang telah lama ada seiring modernitas. Ketika memotivasi khalayak, semula banyak motivator menyajikan metode ceramah yang semi-indoktrinasi dalam ruang yang terbatas. Seiring perkembangannya, kini metode motivasi telah berkembang sedemikian rupa dalam bentuk latihan dan pengembangan (training and development); Sang motivator (trainer)[1] hadir di ruangan dengan bersenjatakan laptop dan materi yang disajikan melalui slideshow powerpoint. Dan materi tersebut ditransformasikan pada trainee[2] melalui layar yang ditembakkan dari sinar LCD (Liquid Crystal Display). Tentu saja yang utama disamping perangkat tersebut adalah cara dan style penyampaian dari sang trainer. Selain metode tersebut, berbagai variasi motivasi banyak disajikan melalui metode outdoor games/ activity. Ada yang menyebutnya Outbond[3]. Tujuan dari berbagai metode pelatihan tersebut sama; Memotivasi trainee dengan benar agar dapat menyadari dan memanfaatkan potensinya dengan optimal. Dengan kata lain ’kira – kira’ menjadikan manusia ’seutuhnya’ manusia.


Seperti yang telah tertulis di akhir alenia I, bahwa motivator (disini diperketat khusus pada trainer) di jaman modern ini semakin dibutuhkan oleh perusahaan (semakin besar dan semakin bonafide perusahaan, maka profesi motivator semakin dibutuhkan). Tugas motivator dalam perusahaan jelas; membangkitkan motivasi karyawan, menguak potensi SDMnya dan diaktualisasikan dengan optimal untuk bekerja bagi kepentingan perusahaan. Dalam bahasa kiasan, mungkin profesi ini mirip dengan ’suplemen’ yang dipercaya mampu memompa semangat serta kebugaran otot – otot altet agar tampil dalam kondisi maksimal. Atau bisa juga diibaratkan bensin dan pelumas yang membuat mesin kendaraan bekerja optimal.


Dengan didukung manajemen strategis perusahaan, rumusannya menjadi jelas, karyawan mendapat motivasi eksternal berupa gaji, dan mendapat motivasi internal yang diperoleh dari pelatihan dan pengembangan. Ketika karyawan dari berbagai lini dalam perusahaan bekerja optimal, maka hal ini akan berdampak positif; peningkatan pada grafik produksi dan pemasaran.


Industrialisasi-konsumerisme-motivator.

Modernitas dengan industrialisasinya telah melahirkan konsumerisme[4]. Berbagai perusahaan, dengan menggunakan perusahaan penyiaran dan iklan telah meninggalkan ’residu’ ingatan tentang berbagai produk dalam alam prasadar setiap individu berupa image atau brand.[5] Tanpa disadari, ini menjadi suatu sublimal conditioning[6] jika dikaitkan dengan kebutuhan pada setiap orang. Selain itu berbagai metode pemasaran yang dianggap ’bebas nilai’ didorong sehingga dapat diterima oleh berbagai masyarakat dengan latar belakang kelas, budaya, dan primordialisme yang berbeda - beda. Dari sinilah paradigma konsumerisme di ditanamkan.


Konsumerisme ini seakan menemukan daur-nya dalam hasil – hasil produksi perusahaan (karena memang itu yang diharapkan). Layaknya hukum permintaan-penawaran, Gaya hidup konsumis ini membutuhkan respon dari perusahaan dengan cara menggenjot produksi. Menggenjot produksi berarti menyusun strategi agar volume produksi ajeg dalam kisaran tertentu. Dan agar ajeg dalam kisaran tersebut maka dibutuhkan strategi kerja yang optimal dari seluruh lini departemen dan karyawan. Berarti, agar kinerja karyawan selalu optimal, (selain keputusan pemegang kebijakan strategis perusahaan) maka tugas motivator (dan kebijakan direksi melalui HRD) adalah memotivasi, membentuk karakter, dan mengembangkan potensi. Hal ini menjadi ’nutrisi’ wajib agar kepentingan perusahaan tercapai. Maka dari itu dalam konteks industrialisasi atau sistem ekonomi kapitalistik, peran motivator menjadi vital.


Dehumanisasi?

Pelatihan dan pengembangan SDM dalam konteks industri telah berkembang menjadi bisnis yang menjanjikan. Semakin Padat industri, semakin banyak trainer, motivator, dan konsultan SDM yang dibutuhkan. Semakin banyak job dari perusahaan, semakin melambung pula ’nilai tukar’ para ’pebisnis mental’ tersebut. Dari kondisi inilah para motivator saling berkomptetisi mendapatkan job dari perusahaan.


Suatu kondisi keseimbangan menuju kemanusiaan menjadi rentan apabila; Perusahaan hendak membeli program pelatihan dan pengembangan dengan harga murah, sementara para motivator (dengan lembaga pelatihan dan pengembangannya) harus berjibaku dengan sesamanya untuk mendapatkan project tersebut. Maka kondisi ini potensial memunculkan dilema; mempertahankan kualitas ideal program pelatihan dan pengembangan, atau mengukur kualitasnya berdasarkan harga yang diberikan perusahaan. Dengan bahasa lain, pelatihan dan pengembangan tidak lagi dihadapkan pada tujuan mengoptimalkan seluruh potensi pada setiap individu, tetapi ’disunat’ seperlunya untuk mengaktifkan potensi individu (karyawan) yang sesuai kebutuhan perusahaan saja. Potensi manusia ditukar berdasarkan ’nilai dan guna’.


Lebih lanjut, dengan kondisi seperti di atas, maka pengembangan SDM diarahkan untuk memenuhi target perusahaan. Sedikit mengingat cita –cita luhur humanis yang ”memanusiakan manusia”, maka setiap orang mempunyai hak memperoleh kesempatan untuk mengaktualisasikan segala potensinya. Apapun potensinya, sekecil apapun potensi itu. Bertolak dari pandangan tersebut, maka sebagai salah satu profesi yang bergerak dalam bidang pengembangan SDM, sudah semestinya para motivator menyadari dan mempraktikkannya. Jika pengembangan SDM tidak di dasarkan pada tujuan humanisme, maka dalam batasan yang luas hal itu menjurus pada dikategori dehumanisasi.


Terakhir, ketika objek pengembangan SDM itu adalah manusia, kenapa praktiknya tidak disandarkan utuh pada prinsip – prinsip kemanusiaan?


Atau disandarkan pada prinsip kemanusiaan, tetapi hanya setengah hati?

Prinsip kemanusiaan yang ’disunat’?



hariez_zona@yahoo.com
pernah di post di "komunitasembunpagi.blogspot.com"

[1] Kata ”Motivator” digunakan untuk menyebut profesi, sedangkan ”trainer” digunakan manakala motivator sedang memberikan pelatihan.

[2] Istilah yang digunakan untuk Peserta pelatihan.

[3] Metode pelatihan dengan menggunakan alam sebagai sarana kelas.

[4] Gaya hidup yang memandang barang – baran (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan dan kesenangan.

[5] Merek produk dan gunanya sesuai kebutuhan

[6] Sublimal Conditioning: Pengkondisian kognitif yang berlangsung dalam alam prasadar (setingkat di bawah kesadaran) personal.